Senin, 19 Mei 2014

antara tasawuf dan filsafat

BUKAN SALAH AL GHAZALI
Beberapa abad terakhir, peradaban islam telah mengalami ketertinggalan disegala bidang, baik bidang keagamaan ,pendidikan , sains, seni dan sastra maupun di beberapa bidang lainnya. Permasalahan tersebut memiliki implikasi yang sangat besar bagi pembentukan kualitas umat islam berikutnya. Sehingga permasalahan tersebut semakin lama menjadi permasalahan yang kronis dan akut, Seperti fanatisme golongan, dikotomi ilmu pengetahuan dsb. Oleh karena itu  beberapa dekade terakhir ketertinggalan peradapan islam menjadi pembahasan dan kajian yang sangat intens bagi para pakar pemikiran islam guna menemukan hal hal yang melatar belakangi permasalahan tersebut dan bagai mana cara penyelesaiannya sehingga  peradaban islam  dapat menduduki singgasana kejayaannya kembali.
                Salah satu pernyataan yang cukup mencengangkan dari beberapa pakar adalah tertuduhnya Al ghozali sebagai biang keladi utama yang telah memotong matarantai kemajuan pemikiran islam dengan kritikan beliau kepada kaum filosof  lewat karyanya Tahafut al Falasifah. Karyanya tersebut dianggap sebagai penyebab tersisihnya filsafat dari khazanah keilmuan islam diperiode berikutnya. Padahal pada era sebelumnya filsafat telah menjadi disiplin ilmu yang mampu menyentuh seluruh disiplin ilmu keislaman lainnya dan telah menjadi induk dari sains yang menjadi pijakan bagi sains modern saat ini, seperti matematika, bologi, kimia, fisika dsb. sehingga yang pada awalnya agama islam hanya sebagai dinul aqidah dan syariah tetapi telah berkembang pesat menjadi dinul ilmi wa ats tsaqofah ( agama ilmu dan kebudayaan ).Namun apakah benar Al Ghozalilah yang bertanggung jawab atas runtuhnya khazanah keilmuan islam. Oleh karena itu mari kita kaji bersama sejauh mana pernyataan tersebut dapat dipertanggung jawabkan dan dipertahankan kebenarannya.
Tahafut al falasifah adalah salah satu kitab Al Ghozali tentang kritikannya kepada kaum filosof. namun perlu diketahui kritikan tersebut hanya tertuju pada 3 permasalahan saja. 1.) kekekalan alam.  2.) pengingkaran pada hari kebangkitan. 3.) Tuhan hanya mengetahui hal hal yang universal saja sedangkan untuk hal hal yang parsial tuhan tidak mengetahui. Seperti tuhan tidak mengetahui hal hal yang dilakukan semut didalam sarang. Hanya 3 permasalahan tersebutlah yang menjadi sasaran kritikan Al Ghozali. Jadi seperti logika , metode ilmiah, atau bagian filsafat lainnya tidak beliau kritik selama tidak bertentangan dengan pokok pokok ajaran islam. Bahkan salah satu dari pendapat beliau yang dikutip dari kitab sulamul munaroq bahwa hukum mempelajari ilmu mantiq ( logika ) adalah dianjurkan dan ternyata Imam al Ghozali juga memiliki konsepsi filsafat sendiri yaitu metode skeptisme ( keragu raguan ) yang secara langsung mengantarkan beliau kepada jalan tasawuf / sufi ( baca kitab al Munqid min dholal ).

                Selain itu al Ghozali memiliki peranan yang sangat sentral dalam harmonisasi fiqh dan tasawuf (tasawuf sunni ) sehingga kedua disiplin ilmu tersebut menjadi kesatuan yang utuh yang memperkuat satu sama lain dan dapat diterima oleh mayoritas umat islam lewat karyanya Ihya’ ulumidin. Pada era sebelumnya sangat nampak sekali jurang dikotomi antara fiqh dan tasawuf yang dimana dua disipin ilmu tersebut seolah telah menjadi dua hal yang saling bertolak belakang. Maka dari itu, menurut penulis Al Ghozali bukanlah penyebab dari ketertinggalan peradaban islam ( bidang keilmuan ) dari bangsa barat tetapi penyebabnya adalah dari umat islam sendiri yang mudah merasa puas dengan cerita kejayaan masa lalu sehingga  berakibat terhadap pengkultusan terhadap para ulama. Pemikiran dan karya karya para ulama terdahulu dianggap sebagai kebenaran yang mutlak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar