BUKAN SALAH AL GHAZALI
Beberapa abad terakhir, peradaban
islam telah mengalami ketertinggalan disegala bidang, baik bidang keagamaan
,pendidikan , sains, seni dan sastra maupun di beberapa bidang lainnya.
Permasalahan tersebut memiliki implikasi yang sangat besar bagi pembentukan
kualitas umat islam berikutnya. Sehingga permasalahan tersebut semakin lama
menjadi permasalahan yang kronis dan akut, Seperti fanatisme golongan, dikotomi
ilmu pengetahuan dsb. Oleh karena itu
beberapa dekade terakhir ketertinggalan peradapan islam menjadi
pembahasan dan kajian yang sangat intens bagi para pakar pemikiran islam guna
menemukan hal hal yang melatar belakangi permasalahan tersebut dan bagai mana
cara penyelesaiannya sehingga peradaban
islam dapat menduduki singgasana
kejayaannya kembali.
Salah
satu pernyataan yang cukup mencengangkan dari beberapa pakar adalah tertuduhnya
Al ghozali sebagai biang keladi utama yang telah memotong matarantai kemajuan
pemikiran islam dengan kritikan beliau kepada kaum filosof lewat karyanya Tahafut al Falasifah. Karyanya
tersebut dianggap sebagai penyebab tersisihnya filsafat dari khazanah keilmuan
islam diperiode berikutnya. Padahal pada era sebelumnya filsafat telah menjadi
disiplin ilmu yang mampu menyentuh seluruh disiplin ilmu keislaman lainnya dan
telah menjadi induk dari sains yang menjadi pijakan bagi sains modern saat ini,
seperti matematika, bologi, kimia, fisika dsb. sehingga yang pada awalnya agama
islam hanya sebagai dinul aqidah dan syariah tetapi telah berkembang pesat
menjadi dinul ilmi wa ats tsaqofah ( agama ilmu dan kebudayaan ).Namun apakah
benar Al Ghozalilah yang bertanggung jawab atas runtuhnya khazanah keilmuan
islam. Oleh karena itu mari kita kaji bersama sejauh mana pernyataan tersebut
dapat dipertanggung jawabkan dan dipertahankan kebenarannya.
Tahafut al falasifah adalah salah
satu kitab Al Ghozali tentang kritikannya kepada kaum filosof. namun perlu
diketahui kritikan tersebut hanya tertuju pada 3 permasalahan saja. 1.)
kekekalan alam. 2.) pengingkaran pada
hari kebangkitan. 3.) Tuhan hanya mengetahui hal hal yang universal saja
sedangkan untuk hal hal yang parsial tuhan tidak mengetahui. Seperti tuhan
tidak mengetahui hal hal yang dilakukan semut didalam sarang. Hanya 3
permasalahan tersebutlah yang menjadi sasaran kritikan Al Ghozali. Jadi seperti
logika , metode ilmiah, atau bagian filsafat lainnya tidak beliau kritik selama
tidak bertentangan dengan pokok pokok ajaran islam. Bahkan salah satu dari
pendapat beliau yang dikutip dari kitab sulamul munaroq bahwa hukum mempelajari
ilmu mantiq ( logika ) adalah dianjurkan dan ternyata Imam al Ghozali juga
memiliki konsepsi filsafat sendiri yaitu metode skeptisme ( keragu raguan )
yang secara langsung mengantarkan beliau kepada jalan tasawuf / sufi ( baca kitab
al Munqid min dholal ).
Selain
itu al Ghozali memiliki peranan yang sangat sentral dalam harmonisasi fiqh dan
tasawuf (tasawuf sunni ) sehingga kedua disiplin ilmu tersebut menjadi kesatuan
yang utuh yang memperkuat satu sama lain dan dapat diterima oleh mayoritas umat
islam lewat karyanya Ihya’ ulumidin. Pada era sebelumnya sangat nampak sekali
jurang dikotomi antara fiqh dan tasawuf yang dimana dua disipin ilmu tersebut
seolah telah menjadi dua hal yang saling bertolak belakang. Maka dari itu,
menurut penulis Al Ghozali bukanlah penyebab dari ketertinggalan peradaban
islam ( bidang keilmuan ) dari bangsa barat tetapi penyebabnya adalah dari umat
islam sendiri yang mudah merasa puas dengan cerita kejayaan masa lalu
sehingga berakibat terhadap pengkultusan
terhadap para ulama. Pemikiran dan karya karya para ulama terdahulu dianggap
sebagai kebenaran yang mutlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar