Minggu, 18 Mei 2014

ikhtisar ihya' part 1

Judul asli                     : Mukhtashar Ihya’ Ulum Al Din
                                      (Al Mursyid Al Amin)
Pengarang                   : Al Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali
Penerbit                       : Dar Al Kutub Al Islamiyat
Tashih Dan Ta’liq        : Alawi Abu Bakar Muhammad Asy Syiqaf
                                      Dosen Fakultas Kajian-Kajian Islam Dan Bahasa Arab
                                      Universitas Al Azhar
MUKADIMAH.

            Segala puji kepunyaan Allah yang menolong bagi tersiar dan tersebar luasnya kebaikan-kebaikan dalam sebuah kitab yang sangat bagus, dan yang menjadikan kitab ini sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi mata orang-orang tercinta dan sebagai simpanan untuk hari akhirat kelak. Semoga rahmat serta salam sejahtera senantiasa dicurahkan kepada junjungan kita Muhammad yang kerena syari’at dan thariqatnya hidup maka hati orang-orang yang berakal pun ikut hidup, kepada anggota keluarganya yang suci bersih, dan kepada seluruh sahabat. Semoga itu yang terjadi sepanjang matahari ihya’ masih menyinari hati, dan sepanjang cita-cita spriritul penulisnya sang wali yang mendapatkan karunia Allah masih tetap dipelihara oleh orang-orang yang tekun mentela’ah dan mencintai kitab ini.
            Selanjutnya, imam Al Ghazali Rahimahullah menjadikan kitabnya Ihya’ Ulum Al Din atas empat bagian, sebagaimana yang ia katakan dalam kata pengantarnya :”Aku mendasarkan kitab ini atas empat bagian. Seperempat membahas tentang ibadah-ibadah, seperempat membahas tentang tradisi-tradisi, seperempat membahas tentang amal-amal yang mencelakakan, dan seperempat lagi membahas tentang amal-amal yang menyelamatkan.”
            Lebih lanjut Al Ghazali Rahimahullah mengatakan :”Pada bagian seperempat yang pertama, saya kemukakan adab-adab ibadah yang tidak diketahui oleh banyak orang, tentang kesunatan-kesunatannya yang halus, dan tentang rahasia-rahasia maknanya yang sangat dibutuhkan oleh orang yang mengetahui sekaligus yang mengamalkannya. Bahkan di antara ulama-ulama akhirat ada yang tidak pernah mentela’ahnya. Bahkan sebagian besar hal itu adalah masalah-masalah fiqih yang terabaikan. Pada bagian seperempat yang kedua, saya kemukakan tentang rahasia-rahasia mu’amalat atau tata pergaulan yang berlaku di antara sesama manusia, tentang kesunatan-kesunatannya yang halus, dan tentang sifat wira’i yang lolos dari pengetahuan banyak orang. Padahal ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang ta’at beragama. Pada bagian sepermpat yang ketiga, saya kemukakan seluruh akhlak yang tercela, dan penolakan Al Qur’an dengan cara menjauhi, menghindari, serta membersihkan hati darinya. Pada bagian ini saya jelaskan masing-masing hakekat akhlak tercela tersebut, penyebab-penyebab yang menimbulkannya, bahaya-bahaya yang diakibatkannya, tanda-tandanya yang bisa dikenali, dan cara-cara yang dapat menyelematkan darinya. Semua itu disertai dengan dalil-dalil ayat Al Qur’an, hadis, dan atsar. Dan pada bagian seperempat yang keempat, saya kemukakan semua akhlak terpuji dan salah satu sifat di antara sekian banyak sifat orang-orang yang jujur serta dekat dengan Allah, dan hal itulah yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Tuhan seru semesta alam. Pada bagian ini saya juga akan menjelaskan masing-masing hakekat akhlak tersebut, sebab-sebab yang dapat mendorongnya, buah hasilnya yang amat berguna, tanda-tandanya yang bisa dikenali, dan keutamaannya yang menarik untuk melakukannya dengan senang hati. Dan semua itu juga disertai dengan dalil-dalil dogama serta dalil-dalil akal.
            Ketahuilah, sesungguhnya kelebihan-kelebihan kitab Al Ihya’ Ulum Al Din sangat banyak. Bahkan setiap kelebihannya juga tidak terhitung. Orang-orang menghimpun biografi Al Ghazali, tetapi mereka lalu lalai. Masih banyak yang belum mereka ketahui. Banyak ulama yang memuji kitab ini.
Al Hafizh imam Abul Fadhal Al Iraqi dalam kitabnya Al Takhrij misalnya mengatakan :”Ini adalah kitab Islam paling besar yang menerangkan tentang masalah halal dan haram.”
An Nawawi mengatakan :”Kitab Al Ihya’ ini hampir seperti Al Qur’am.”
Syaikh Abdullah Al Abdarus Radhiyallahu Anhu seorang wali sekaligus ulama besar hampir hapal kitab ini di luar kepala.
Diceritakan darinya bahwa ia mengatakan :”Selama beberapa tahun mentela’ah setiap pasal bahkan setiap huruf kitab Al Ihya’, mencermati, dan merenungkannya, hampir setiap hari aku berhasil memperoleh ilmu, rahasia-rahasia besar, dan pemahaman-pemhamaman mendalam yang tidak aku peroleh sebelumnya. Sulit mencari orang seperti penulis kitab ini. Saya sangat mengagumi Al Ghazali berikut karyanya Al Ihya’. Ia mengajak manusia membaca kitab ini dengan bahasa lisan dan tindakan nyata. Dan ia pun menganjurkan mereka untuk tekun mentela’ahnya serta mengamalkan isinya.”
Di antara yang dikatakan oleh Syaikh Abdullah Al Abdarus Rahimahullah ialah :”Kalian, wahai saudara-saudaraku, harus mengikuti Al Qur’an dan as sunnah. Maksud saya ialah syari’at yang dijabarkan dalam kitab-kitab karya Al Ghazali, terlebih kitab Dzikru Al Maut (Ingat Mati), kitab Al Fiqru Wa Al Zuhdu (Miskin Dan Zuhud), kitab Al Taubat (Taubat), dan kitab Riyadhat Al Nafsi (Melatih Jiwa).”
Di antara yang dikatakannya dengan ringkas dan padat ialah :”Seandainya Allah Ta’ala menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, niscaya orang-orang yang masih hidup hanya meminta wasiat pada isi kitab Al Ihya’.
Ia juga mengatakan :”Siapa ingin menempuh jalan Allah, jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, jalan orang-orang yang mengenal Allah, dan jalan para ulama ahli syari’at maupun ahli thariqat, mau tidak mau ia harus mentela’ah kitab-kitab karya Al Ghazali, terutama kitab Ihya’ Ulum Al Din. Kitab ini adalah samudera yang sangat dalam.”
Kalau syaikh Al Abdarus saja begitu antusias mendalami kitab ini dengan detail, maka kesaksiannya lebih berarti daripada kesaksian sejuta orang.
Sayid agung yang mengenal Allah atau yang lebih dikenal dengan nama Ali Abu Bakar bin Asy Syaikh Abdurrahman As Saqaf mengatakan :”Seandainya orang kafir mau membolak-balikkan halaman kitab Al Ihya’, ia akan masuk Islam.”
Di dalam kitab ini ada rahasia tersembunyi yang mampu menarik hati laksana magnit. Yang dimaksud dengan orang kafir di sini ialah orang yang jelas-jelas tidak mengetahui aib-aib dirinya, dan yang tidak dapat mengenali kebenaran. Artinya, hanya dengan mentela’ah kitab Al Ihya’, Allah akan melapangkan dadanya dan menerangi hatinya. Sebab, nasehat yang keluar dari hati yang tulus itu layak menjadi pelajaran bagi orang yang mendengarnya.
Berikut adalah bait-bait sya’ir yang dilantunkan oleh Syaikh Ali Abu Bakar Rahimahullah untuk dirinya sendiri :
Saudaraku,
bangkit dan tempuhlah jalan-jalan lurus itu
lekaslah menuju Tuhan dengan segenap semangat
Wahai pencari kandungan Al Qur’an,
as sunnah, dan  keputusan nurani
hati adalah samudera kelembutan
 yang menerangi jalan  hakekat
yang  mengungkap dzikir-dzikir penuh makna
dan yang mempesona semua makhluk
Tekunilah Ihya’ Ulumuddin berikut isi dan rahasia-rahasianya
Berapa banyak kelembutan di dalamnya
 menyegarkan orang yang haus ilmu
berapa banyak keelokan
menawan orang yang pintar
Inilah kitab agung
yang tidak ada bandingan sebelum dan sesudahnya
yang sarat dengan jalan-jalan lurus
dengan kebun-kebun ma’rifat
dengn taman-taman kelembutan
dan dengan syurga aneka ilmu. 
Mengenai beberapa bagian yang secara lahiriah dinilai tidak jelas – meskipun setelah ditahqiq  sudah tidak ada masalah – atau beberapa hadis atau beberapa atsar yang dianggap lemah, Al Ghazali terus terang membicarakan tentang sanadnya.  
Di antara yang mengagumi kitab Al Ihya’ ialah Al Hafizh Al Iraqi. Ia mengatakan :”Sebagian besar hadis yang dikemukakan oleh Al Ghazali bukanlah hadis maudlu’, seperti yang ia buktikan dalam takhrijnya. Selebihnya, dan itu sangat sedikit sekali, Al Ghazali meriwayatkannya dari orang lain, atau ia hanya mengutip dengan menghindari kalimat diriwayatkan.
Tentang serangan bahwa banyak hadis dla’if yang diriwayatkan oleh Al Ghazali, itu adalah serangan yang sangat naïf, karena hadis-hadis dla’if itu bisa diamalkan untuk masalah-masalah yang menyangkut keutamaan. Sebagai contoh ialah kitab Al Ghazali yang membahas tentang kelembutan-kelembutan. Lagi pula Al Ghazali mengikuti kitab-kitab para imam bergelar Al Hafizh yang juga mengemukakan hadis dla’if.  Sebagian orang memang mengingatkan hal itu, namun sebagian lagi mendiamkannya saja. Itu adalah kitab-kitab fiqih karya ulama-ulama terdahulu, yaitu kitab-kitab yang membahas tentang hukum-hukum, bukan tentang keutamaan-keutamaan. Dalam kitab-kitab tersebut mereka juga mengemukakan hadis-hadis dla’if, namun didiamkan saja. Sampai-sampai An Nawawi Rahimahullah, salah seorang ulama dari generasi belakangan, juga mengingatkan tentang hadis dla’if, sebagaimana semua itu telah diisyaratkan oleh Al Iraqi.
Tentang biografi Al Ghazali Rahimahullah, beliau ialah imam Zainuddin Hujjatul Islam alias Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali Ath Thusi An Nasaiburi, seorang ulama sufi ahli fiqih yang bermadzhab Syafa’i dan Al Asy’ari yang keutamaannya sudah tersiar di seluruh penjuru dunia. Beliau dianugerahi bakat kemampuan luar biasa dalam menulis dan mengarang yang bagus. Tulisan beliau sarat dengan ungkapan-ungkapan yang mudah dipahami, dan isyarat-isyarat yang gampang dicerna. Beliau sangat mendalami berbagai disiplin ilmu yang pokok maupun yang cabang, sangat fasih dalam mengemukkan dalil-dalil naql maupun dalil aql, dan sangat menguasai dalil-dali global maupun dalil-dalil yang detail. Selain itu secara khusus Allah menganugerahinya karomah, perilaku yang baik, sifat istiqamah, sifat zuhud, dan sifat wira’i. Semua itulah yang mendorong beliau selalu menjauhi bunga-bunga dunia, berpaling dari hal-hal yang fana’, dan enggan bersusah payah demi menuruti kesenangan-kesenangan nafsu.
Al Hafizh Al Allamah Ibnu Asakir, Syaikh Afifuddin Abdullah bin As’ad Al Yafi’i, dan Al Faqih Jamaluddin Abdurrahim Al Asnawi Rahimahumullah mengatakan :”Imam Al Ghazali lahir di Thus pada tahin 150 hijriyah bertepatan dengan tahun 1058 masehi. Sejak masih kecil beliau sudah mempelajari ilmu fiqih. Beliau pergi ke kota Naisabur dan berguru kepada imam Al Haramain. Berkat ketekunan dan kesungguhannya belajar, dalam waktu singkat beliau tumbuh menjadi salah seorang ulama yang cukup menonjol di zamannya. Sewaktu menjadi imam, selain mengajar dan membimbing murid-murid, beliau juga aktif menulis. Beliau semakin popular dan kedudukannya sudah diperhitungkan.
Mengomentar sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang menyatakan bahwa pada setiap permulaan seratus tahun Allah Ta’ala akan menampilkan untuk umat ini seseorang yang memperbaharui agama mereka,  beberapa ulama Radhiyallahu Anhum,  antara lain Syaikh Al Imam Al Hafizh Ibnu Asakir mengatakan :”Pada permulaan seratus tahun pertama orang itu ialah Umar bin Abdul Aziz Radhiyallahu Anhu, pada permulaan seratus tahun kedua orang itu ialah imam Asy Syafi’i Radhiyallahu Anhu, pada permulaan seratus tahun ketiga orang itu ialah Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari Radhiyallahu Anhu, pada permulaan seratus tahun keempat  orang itu ialah Abu Bakar Al Baqilani Radhiyallahu Anhu,  dan pada permulaan seratus tahun kelima orang itu ialah Abu Hamid Al Ghazali Radhiyallahu Anhu.

ooo0ooo


























BAB I
TENTANG ILMU DAN BELAJAR. [1]

Di dalam Al Qur’an terdapat beberapa dalil tentang keutamaan ilmu. Antara lain ialah firman Allah Ta’ala Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ (Surat Al Mujadilah : 11)
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma mengatakan :”Para ulama itu memiliki sebanyak tujuh ratus derajat di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak antara dua derajat ialah sejauh perjalanan lima ratus tahun. Allah Ta’ala berfirman :“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Surat Az Zumar : 9)
Allah Ta’ala berfirman :“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”(Surat Fathir : 28)
Allah Ta’ala juga berfirman :“Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Surat Al Ankabut : 43)
Di antara hadis yang menerangkan tentang keutamaan derajat para ulama ialah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam :
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
”Para ulama adalah pewaris nabi-nabi.”
Beliau bersabda :”Sebaik-baik manusia ialah seorang mukmin yang jika dibutuhkan ia berguna, dan jika tidak dibutuhkan ia berguna bagi dirinya sendiri.” Beliau bersabda :”Iman itu telanjang. Pakaiannya ialah ketakwaan, perhiasannya ialah rasa malu, dan buah hasilnya ialah ilmu.” Beliau bersabda :”Manusia yang paling dekat dengan derajat nubuwah ialah para ulama dan para pejuang. Adapun para ulama, karena mereka benar-benar telah menunjukkan manusia kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Sementara para pejuang, mereka telah berjihad dengan menggunakan pedang-pedang mereka demi apa yang dibawa oleh para rasul.” Beliau bersabda :”Seorang ulama itu adalah kepercayaan Allah di muka bumi.” Dan beliau juga bersabda :”Pada hari kiamat kelak para nabi dimintai syafa’at, lalu para ulama, kemudian para syuhada’.”
Fathu Al Mushili mengatakan :”Bukankah orang yang sakit kalau dilaang makan, minum, dan berobat ia akan mati ? [2] Demikian pula dengan hati. Jika dilarang atau tidak diberi hikmah dan ilmu selama tiga hari saja, ia pun akan mati.” Fathu Al Mushili benar. Sebab, santapan hati ialah ilmu dan hikmah. Bahkan dengan keduanya hati bisa bisa hidup. Sama seperti halnya santapan bagi tubuh ialah makanan dan minuman. Siapa kehilangan ilmu hatinya sakit dan ia pasti mati. Sedang ia tidak merasakannya. Sebab, kesibukan-kesibukan urusan duniwi telah melumpuhkan perasaan-perasaannya. Dan ketika kematian telah menelanjangi kesibukan-kesibukan tersebut, ia akan mengalami ras sakit yang sangat besar dan merasakan penderitaan yang tidak ujungnya sama sekali. Itulah makna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Manusia itu sama tidur. Manakala telah mati mereka baru bangun.”
Tentang keutamaan ilmu, hal itu ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Sesungguhnya para malaikat sama meletakkan sayapnya pada seorang penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang dilakukannya.”
Beliau juga bersabda :”Kepergianmu untuk mempelajari satu bab ilmu adalah lebih baik daripada kamu shalat seratus raka’at.”
Abu Darda’ berkata :”Siapa yang mengggap pergi mencari ilmu itu bukan jihad, berarti ada kekurangan pada pikiran dan akalnya.”
Dan tentang keutamaan mengajarkan ilmu, hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala :“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya” (Surat Ali Imran : 187)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :”Setiap kali Allah memberikan ilmu kepada orang yang berilmu, berarti Allah mengambil janji darinya seperti Allah mengambil jani dari para nabi agar mereka menjelaskannya dan mereka tidak boleh menyembunyikannya.”
Ketika hendak mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berpesan :”Sesungguhnya jasamu berhasil membuat seseorang mendapatkan petunjuk Allah itu lebih baik bagimu daripada dunia se isinya.”
Umar bin Al Khattab Radhiyallahu Anhu berkata :”Siapa menceritakan sebuah hadis lalu ia mengamalkannya, baginya mendapatkan seperti pahala amal itu.”
Mengenai keutamaan mempelajari ilmu dan mengajarkannya, terdapat riwayat marfu’ dari Mu’adz bin Jabal :”Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah ungkapan rasa takut, [3] menuntutnya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menelitinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah, dan memberikannya kepada orang yang tepat adalah amal yang dapat mendekatkan kepada Allah. Ilmu adalah penghibur di kala sendiri, teman di kala sepi, petunjuk di kala suka maupun duka, pembantu di kala sendirian, pendamping di kala tidak ada kawan-kawan, dan cahaya jalan menuju syurga. Dengan ilmu Allah mengangkat derajat beberpa kaum, sehingga dalam hal kebaikan Allah menjadikan mereka sebagai pembimbing serta penunjuk yang dijadikan pedoman, pelopor dalam hal kebajikan yang akan selau diikuti jejak-jejak langkah mereka, yang akan selalu ditiru perbuatan-perbuatan mereka, dan yang mendorong maliakat tertarik sifat-sifat mereka sehingga mau mengusap mereka dengan sayap-sayapnya.  Semua benda yang basah dan yang kering membacakan tasbih dan memohonkan ampunan untuk mereka, termasuk ikan-ikan berikut bianatang-binatang lain yang ada di samudera, binatang-binatang buas maupun binatang-binatang jinak di daratan, dan langit berikut bintang-bintangnya. Soalnya ilmu lah yang menghidupkan hati dari kebutaan, dan yang memberi cahaya penglihatan dari kegelapan. Ilmu dapat menguatkan badan dari kelemahan. Dengan ilmu seorang hamba dapat mencapai kedudukan-kedudukan orang-orang yang berbakti dan derajat-derajat yang tinggi. Pahala merenungkan ilmu itu sebanding dengan pahala puasa, dam pahala pengkajinya sebanding dengan pahala menjalankan shalat sunnat malam. Ilmu adalah bekal untuk ta’at, menyembah, mengesakan, dan takut kepada Allah. Ilmu adalah alat untuk menyambung hubungan-hubungan keluarga. Ilmu adalah imam, dan amal adalah makmumnya. Orang-orang yang bahagia ialah yang diberikan ilmu, dan orang-orang yang celaka ialah yang dihalangi darinya.”
Dari segi akal, keutamaan ilmu sangat jelas. Sebab, dengan ilmu seseorang bisa sampai kepada Allah Ta’ala, bisa dekat dengan-Nya, dan bisa berada di sampign-Nya. Ilmu adalah kebahagiaan yang langgeng, dan nikmat abadi yang tiada habis-habisnya . Di dalam ilmu terletak kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Dan pada hakekatnya, dunia itu lading akhirat. Seorang yang berilmu, dengan ilmunya ia menanam kebahagiaan yang kekal, karena dengan ilmunya ia dapat mendidik akhlak manusia dan mengajak mereka kepada amal-amal yang akan mendekatkan mereka kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.“ (Surat An Nahl : 125) Ia mengajak orang-orang khusus dengan menggunakan hikmah, mengajak orang-orang awam dengan menggunakan nasehat-nasehat, dan mengajak orang-orang yang keras kepala dengan menggunakan perdebatan. Selain itu ia dapat menyelamatkan dirinya dan juga orang lain. Dan itulah letak kesempurnaan manusia.

Pasal Menerangkan
Tentang Ilmu Yang Terpuji Dan Ilmu Yang Tercela
Dan Menerangkan Tentang Fardhu Ain Dan Fardhu Kifayah.

            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
”Mencari ilmu itu sangat fardhu bagi orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan.”
            Sesudah baligh dan sesudah menyatakan masuk Islam, salah satu yang harus dilakukan oleh seseorang ialah mengetahui dua kalimat syahadat dan memahami maknanya. Ia tidak wajib mengetahui hukum-hukum kedua syahadat tersebut  dengan menggunakan bukti-bukti. Tetapi ia cukup menyakini hal itu tanpa bimbang dan tanpa ragu-ragu, kendatipun hanya dengan bertaklid. Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terhadap orang-orang dusun yang masuk Islam.
            Setelah itu ia wajib sibuk mempelajari perintah-perintah Allah Ta’ala yang selalu dibebankan kepadanya. Contohnya seperti shalat sesuai dengan yang diperintahkan. Ia harus mempelajari shalat ketika diwajibkan, dan siap sedia sebelum diwajibkan. Demikian pula dengan puasa. Ia juga harus mempelajari zakat jika ia memiliki harta yang memang wajib dizakati setelah genap satu tahun dan sesudah ia menjadi muslim. Kewajiban yang dibebankan kepadanya itu menurut kadar kebutuhan. Dan ia harus ingat akan kewajiban pergi haji yang diwajibkan kepadanya. Namun ia tidak harus segera mempelajari ilmunya, sebagainana ia juga tidak harus segera menjalankannya.
            Ia juga harus mempelajari kemaksiatan-kemaksiatan yang wajib ditinggalkannya sepanjang waktu sesuai dengan batas-batas perintah. Jika ada keraguan dalam hatinya terhadap keyakinan-keyakinannya, ia wajib belajar dan memikirkan sekedar yang dapat menghilangkan keraguan-keraguannya. Mempelajari ilmu yang dapat menyelamatkan dari hal-hal yang mencelakakan, dan dapat meraih serta memperoleh derajat-derajat peningkatan, adalah fardhu ain. Sementara mempelajari ilmu-ilmu lain hukumnya fardhu kifayah, bukan fardhu ain.
            Ketahuilah, sesungguhnya tingkatan-tingkatan ilmu itu sesuai dengan kedekatannya pada ilmu akhirat dan sesudahnya. Sebagaimana ilmu-ilmu syari’at [4] yang mengungguli ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang terkait dengan kebenaran-kebenaran syari’at juga mengungguli ilmu-ilmu yang hanya terkait dengan hukum-hukum secara lahiriah. Seorang yang punya ilmu agama mendalam, ia hanya bisa menghukumi kebenaran dan kerusakan sesuatu yang bersifat lahiriah. Di balik itu ada ilmu yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu ibadah diterima atau ditolak. Dan itulah yang disebut dengan ilmu-ilmu tasawuf yang akan diterangkan nanti.
            Ulama-ulama terkenal yang pendapat mereka diikuti dan dijadikan pegangan oleh manusia, karena mereka sanggup menghimpun antara ilmu fiqih dan ilmu-ilmu hakekat berikut pengamalannya. Hal itu diketahui dengn mengungkap hal ihwal mereka dan mengutip pendapat-pendapat mereka. Mereka ada lima orang; yakni imam Asy Syafi’i, imam Malik, imam Abu Hanifah, imam Ahmad bin Hanbal, dan imam Sufyan Ats Tsauri Rahmatullahi Alaihim. Masing-masing mereka terkenal rajin beribadah, zuhud, dan memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang ilmu-ilmu akhirat, sebagaimana juga memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang ilmu fiqih lahiriah yang terkait dengan kemaslahatan-kemaslahatan makhluk. Mereka menginginkan seluruh ilmu yang dimiliki hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Itulah lima sifat yang diikuti oleh para ulama ahli fiqih masa kini. Salah satu di antaranya ialah kampanye besar-besaran [5] dalam membagi ilmu fiqih. Sebab, empat sifat lainnya hanya cocok untuk urusan akhirat. Dan yang satu ini patut untuk dunia sekaligus akhirat. Berikut ini kami ingin mengemukakan hal ihwal mereka yang menunjukkan keempat sifat tersebut.
            Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dalam kapasitasnya sebagai seorang yang tekun beribadah, ia membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga lagi untuk tidur.
            Kata Ar Rabi’ :”Imam Asy Syafi’i Rahimahullah mengkhatamkan Al Qur’an setiap malam.”
            Al Husain Al Karabisi Rahimahullah bercerita :”Aku sering menginagp bersama Asy Syafi’i. Sepertiga waktu malam ia gunakan untuk shalat. Maksimal ia membaca lima puluh ayat. Jika kurang lama, ia membaca seratus ayat. Setiap sampai pada ayat yang menyebutkan tentang rahmat, ia pasti memohon kepada Allah Ta’ala untuk kepentingan dirinya dan juga kepentingan seluruh orang-orang mukmin. Dan setiap sampai pada ayat yang menyinggung tentang siksa, ia selalu memohon perlindungan kepada Allah daripadanya. Kepada Allah ia juga memohon keselamatan untuk diri sendiri dan untuk seluruh orang-orang mukmin. Kalau ia hanya membaca maksimal lima puluh ayat, hal itu menunjukkan bahwa ia sangat menguasai dan mendalami rahasia-rahasia Al Qur’an.”
            Imam Asy Syafi’i mengatakan :”Sejak usia enam belas tahum aku tidak pernah kenyang. Soalnnya kenyang itu dapat membuat tubuh menjadi terasa berat, membikin hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, mengundang nafsu tidur, dan melemahkan orang yang bersangkutan dari beribadah.”
            Ia juga mengatakan :”Aku tidak pernah bersumpah demi Allah Ta’ala, baik sebagai orang yang jujur maupun orang yang dusta.”
            Pada suatu hari imam Asy Syafi’i ditanya tentang suatu masalah. Tetapi ia diam saja. Dan ketika ditanya, kenapa anda tidak menjawab ? Ia berkata :”Aku menunggu sampai aku yakin, apakah yang terbaik aku harus diam atau harus menjawab.”
            Ahmad bin Yahya bercerita :”Pada suatu hari imam Asy Syafi’i keluar dari sebuah took yang menjual lampu-lampu. Kami sengaja mengikutinya. Tiba-tiba ada seseorang yang mencela orang lain yang termasuk ulama. Imam Syafi’i menoleh ke arah kami dan berkata :”Jagalah pendengaran kalian jangan sampai mendengarkan ucapan yang keji, sebagaimana kalian menjaga lidah kalian jangan sampai mengucapkannya. Sesungguhnya orang yang mendengarkan adalah sekutu orang yang mengucapkan.       Sesungguhnya orang bodoh itu suka melihat sesuatu yang sangat buruk dalam bejananya, lalu ia ingin sekali menuangkannya ke dalam bejana kalian. Jika ucapan orang yang bodoh itu disangkal, sungguh beruntung orang yang menyangkalnya, sebagaimana hal itu membuat celaka orang yang mengucapkannya.”    
            Asy Syafi’i mengatakan :Seorang bijak menulis surat kepada sesama orang bijak “Anda telah dianugerahi ilmu. Oleh karena itu jangan Anda nodai ilmu Anda dengan kegelapan dosa-dosa. Akibatnya, Anda akan tetap dalam kegelapan pada saat para ahli ilmu menikmati cahaya ilmu mereka.”
            Tentang sifat zuhud imam Asy Syafi’i Rahimahullah, adalah seperti yang dikatakannya :”Siapa yang mengaku mencintai duniawi sekaligus mencintai Allah Yang Maha Pencipta, berarti ia berdusta.”
            Pada suatu hari cemeti di tangan Asy Syafi’i terjatuh. Lalu seseorang mengambilkannya. Demi membalas kebaikan orang tersebut, Asy Syafi’i memberinya uang sebanyak lima puluh dinar. Kedermawanan Asy Syafi’i sudah sangat terkenal.
            Salah satu yang membuktikan bahwa Asy Syafi’i sangat takut kepada Allah Ta’ala dan hasratnya hanya terfokus pada urusan akhirat ialah apa yang diceritakan tentang dirinya :”Sesungguhnya Sufyan bin Uyainah meriwayatkan sebuah hadis tentang kelembutan-kelembutan. Dan tiba-tiba ia jatuh pingsan. Bahkan ada yang mengatakan, ia telah meninggal dunia. Sufyan bin Uyainah menjawab :”Jika ia meninggal dunia, maka mati pula orang yang paling utama di zamannya.” Seseorang yang lain membaca ayat :“Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),” (Surat Al Mursalat : 35) Asy Syafi’i terlihat telah berubah warna mukanya, tubuhnya menggigil keras, lalu ia jatuh pingsan. Begitu siuman ia berkata :”Aku berlindung kepada Engkau dari posisi orang-orang yang berdusta dan dari penyimpangan orang-orang yang lalai. Ya Allah, kepada Engkau hati orang-orang arifin sama tunduk, dan orang-orang yang rindu sama merendah karena merasa takut kepada Engkau. Ya Allah, anugerahkan kepadaku kemurahan-Mu , dan naungilah aku dengan satir-Mu. Dengan Dzat-Mu yang mulia, tolonglah aku dan ma’afkanlah kesalahanku.”
            Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Asy Syafi’i itu orang yang mengetahui rahasia-rahasia hati ialah ketika ia ditanya tentang masalah sifat riya’ atau pamrih. Dengan sepontan ia menjawab :”Riya’ itu fitnah yang juga diikatkan oleh nafsu pada  tali-tali pandangan mata hati para ulama. Sehingga mereka melihatnya dengan kesadaran jiwa  yang buruk. Akibatnya, amal-amal mereka menjadi rusak dan batal.”
            Lebih lanjut ia mengatakan :”Jika kamu mengkhawatirkan diri berlaku ujub, lihat keridhaan siapa yang kamu cari, nikmat apa saja yang kamu inginkan, siksa apa yang kamu hindari, keselamatan apa saja yang kamu syukuri, dan bencana apa saja yang kamu ingat.”
            Salah satu bukti yang menunjukkan Asy Syafi’i hanya menginginkan keridhaan Allah dari ilmu yang ia miliki dan dari berdiskusi yang ia lakukan, ialah pernyataannya :”Aku ingin manusia memanfa’atkan ilmu ini, dan sama sekali tidak perlu menghubung-hubungannya denganku.” Ini artinya jelas bahwa Asy Syafi’i tidak ingin mencari populeritas di tengah-tengah masyarakat dan kesenangan yang palsu.
            Ia mengatakan :”Ketika berdebat dengan siapapun, saya tidak ingin ia berbuat salah atau di pihak yang keliru. Setiap kali berbicara dengan siapa pun, saya sangat berharap ia setuju, membenarkan, dan beroleh pertolongan, sehingga ia akan memperoleh perhatian serta penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan setiap kali berbicara dengan siapa pun, saya hanya ingin semoga Allah menjelaskan kebenaran lewat lisannya atau lewat lisanku.”
            Ahmad bin Hanbal mengatakan :”Selama empat puluh tahun, setiap kali selesai shalat aku selalu mendo’akan Asy Syafi’i.”
            Tentang imam Malik Rahimahullah, ia adalah orang yang menyandang kelima sifat tersebut. Salah satu bukti yang menunjukkan atas hal itu ialah ketika ditanya :”Wahai Malik, bagaimana pendapat Anda tentang menuntut ilmu ?”, ia menjawab :”Sangat bagus. Tetapi kamu harus memikirkan apa pun yang bisa membuatmu  menekuninya sejak paagi hingga petang hari, maka tekunilah.”
            Kata Asy Syafi’i Rahimahullah :”Aku pernah melihat Malik ditanya tentang empat puluh masalah. Dan tiga puluh di antara pertanyaan itu ia jawab :”Saya tidak tahu.” Sifat zuhud dan wira’inya terlalu popular untuk hanya sekedar diingat.”
            Imam Abu Hanifah Rahimahullah pun demikian. Diceritakan, ia biasa terjaga selama separoh malam. Pada suatu hari ada seseorang yang bilang kepada temannya, bahwa imam Abu Hanifah biasa terjaga semalam suntuk. Sehingga setelah itu imam Abu Hanifah selalu terjaga semalam suntuk untuk beribadah. Ia mengatakan :”Aku merasa malu kepada Allah dikatakan melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan seperti itu.”
            Begitu pula dengan imam Ahmad bin Hanbal dan imam Sufyan Ats Tsauri. Sifat zuhud dan wira’i mereka terlalu popular untuk hanya sekedar diingat. Pada pembicaraan dalam buku ini nanti akan dikemukakan hikayat-hikayat yang menunjukkan atas hal itu. Sekarang mari kita lihat orang-orang yang mengakui mengikuti imam-imam tersebut, apakah pengakuan mereka benar atau tidak ?

Pasal Menerangkan
Bahwa Semua Itu Tidak Terpuji.

            Yang kami maksud dengan ilmu-ilmu tidak terpuji ialah ilmu sihir, ilmu perdukunan, ilmu nujum, ilmu falsafah, dan lain sebagainya. Ilmu sihir dan ilmu perdukunan dapat mendatangkan berbagai macam mudharat. Adapun ilmu nujum itu dilarang. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :”Jika disebut-sebut tentang perbintangan, maka diamlah.” [6]
            Kita disuruh diam, karena seseorang itu cenderung suka mengalihkan pada sebab-sebab, yakni perantara-perantara yang bisa diindera maupun yang ada dalam khayalan. Boleh jadi karena sebab itu ia lalu melaikan si pembuat sebab-sebab. Sementara falsafah itu dapat membawa kepada hal-hal yang bertentangan dengan syari’at. Harus diakui bahwa ilmu matematika itu tidak mungkin bisa ditentang dan diingkari. Tetapi ia menjadi pengantar bagi hal-hal yang berada di belakangnya. Jadi gunakan saja ilmu tersebut sekedar kebutuhan saja. Menuntut ilmu-ilmu alam pun sekedar kebutuhan saja. Demikian menuntut ilmu astronomi juga sekedar untuk mengetahui tempat-tempat tertentu dan petunjuk-petunjuk arah kiblat.

Pasal Tentang
Adab Guru Dan Murid.

            Adab dan tugas seoang murid itu cukup banyak. Tetapi kami bagi perinciannya menjadi tujuh kelompok.
            Tugas pertama : Terlebih dahulu harus mmbersihkan jiwa dari akhlak-akhlak yang nista, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Agama itu didirikan atas kebersihan.” Yang dimaksud ialah bukan kebersihan pakaian, tetapi kebersihan hati. Hal itu berdasarkan petunjuk firman Allah Ta’ala :“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (Surat At Taubah : 28) Dijelaskan bahwa yang najis itu tidak hanya khusus melekat pada pakaian. Sepanjang batin tidak bersih dari kotoran-kotoran, ia tidak bisa menerima ilmu yang bermanfa’at dalam agama, dan ia tidak akan disinari oleh cahaya ilmu.
            Ibnu Mas’ud mengatakan :”Ilmu itu tidak diukur dengan banyaknya meriwayatkan. Tetapi sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang terpasang di hati.”
            Seorang muhaqiqin mengatakan :”Kami pernah menuntut ilmu bukan karena Allah. Dan ilmu menolak, kecuali karena Allah. Maksudnya, ilmu tidak mau dan menolak kami, sehingga kami tidak bisa melihat hakekatnya. Yang kami dapatkan hanya sekedar cerita dan lafazh-lafazhnya saja.”
            Tugas kedua :  Mengurangi ketergantungan-ketergantungan dan menjauhi kampung halaman, supaya hatinya bisa terfokus pada ilmu. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Surat Al Ahzab : 4) Oleh karena itu ada yang mengatakan :”Ilmu tidak akan memberimu sebagiannya saja, sampai kamu memberikan dirimu seutuhnya kepadanya.”
            Tugas ketiga : Jangan sombong terhadap ilmu dan tidak membangkang pada guru. Sebaliknya kamu harus menyerahkan kendali kebebasan kepadanya. Contohnya seperti orang sakit berat yang mennyerahkan kendali kebebasan kepada dokter, tanpa harus menunut yang ini dan yang itu. Sebaiknya dibiasakan untuk berkhidmat kepada guru. Diriwayatkan bahwa Zaid bin Tasbit menyembahyangkan jenazah. Tiba-tiba seekor bighal didekatkan kepada Zaid untuk dinaiki. Lalu muncul Ibnu Abbas yang segera memegangi kendalinya. Zaid berkata :”Biarkan, wahai sepupu Rasulullah.” Ibnu Abbas menjawab :”Demikianlah kami diperintah untuk menghormati para ulama dan orang-orang besar.” Zaid segera mencium tangan Ibnu Abbas seeaya berkata :”Beginilah kami diperintah untuk memperlakukan anggota keluarga nabi kami Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :”Bukan termasuk akhlak orang mukmin sikap terlalu hormat, kecuali dalam urusan menuntut ilmu.”
            Seorang penyair mengatakan :
            Ilmu itu memerangi seorang pemuda yang sombong
            Laksana banjir yang memerangi tempat yang tinggi.
            Tugas keempat, Menghindari dari mendengarkan perselisihan-perselisihan manusia, karena hal itu dapat menimbulkan kegelisahan dan kebingungan. Mula-mula hatinya akan cenderung pada semua yang masuk padanya, terlebih hal-hal yang dapat menimbulkan kemalasan dan enak-enakan. Oleh karena itu bagi para penuntut ilmu yang masih pemula, tidak boleh mengikuti perbuatan orang-orang yang malas. Sampai-sampai ada sebagian mereka yang mengatakan :”Siapa yang mengunjungi kami pertama kali, ia adalah teman. Dan siapa yang mengunjungi kami terakhir kali ia adalah zindiq.” Sebab pada akhirnya anggota-anggota tubuh mereka menjadi malas bergerak, kecuali hanya untuk melakukan hal-hal yang fardhu saja. Mereka mengganti amalan-amalan sunnat hanya dengan gerakan-gerakan hati dan kesaksian yang terus menerus. Orang yang lalai itu cenderung malas dan enak-enakan. “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (Surat An Naml : 88)
            Tugas kelima : Setiap disiplin ilmu yang terpuji harus terus ditekuni, sampai terlihat dengan jelas tujuannya. Jika usia membantu, ia harus menyempurnakannya. Kalau tidak, ia pilih saja yang paling penting. Menjatuhkan pilihan paling penting itu  dilakukan setelah mengamati keseluruhan.
            Tugas keenam : Menfokuskan perhatian terhadap ilmu yang paling penting di antara ilmu-ilmu yang ada, yakni ilmu akhirat. Yang kami maksudkan ialah bagian muamalah dan mukasyafah. Mu’amalah itu akan menuju mukasyafah. Mukasyafah ialah mengenal Allah Ta’ala, dan itu adalah cahaya yang dipasang oleh Allah Ta’ala pada hati yang bersih karena ibadah dan mujahadah. Dan hal itu akan berujung pada tingkatan iman Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu, seperti yang dinyatakan dalam sebuah riwayat :”Seandainya imam penduduk bumi ditimbang dengan iman Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.” Hal itu karena adanya sebuah rahasia yang bercokol dalam hatinya, bukan karena pengajuan bukti-bukti dan argumen-argumen yang rapi.
            Sangat mengherankan sikap seseorang yang telah mendengar sabda-sabda dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia meremehkan ucapan ala sufi yang didengarnya tersebut. Ia bahkan menganggap bahwa hal itu adalah termasuk kebatilan-kebatilan sufi. Berhati-hatilah dalam masalah ini, karena ia bisa menyia-nyiakan capital. Berusalah dengan penuh semangat untuk mengetahui rahasia yang keluar dari ilmu para ulama ahli fiqih dan para ulama ulama ahli tauhid. Jangan melakukannya, kecuali karena kamu ingin mencarinya.
            Ketahuilah, sesungguhnya ilmu yang paling mulia dan yang paling puncak ialah mengenal Allah Ta’ala. Inilah samudera yang dasarnya tidak mungkin terjangkau. Derajat manusia yang terdalam di dalamnya ialah tingkatan para nabi, para wali, dan seterusnya. Diceritakan bahwa dua orang bijak yang sama-sama rajin beribadah, terlihat pada tangan salah seorang mereka secarik kain bertuliskan :”Jika kamu berbuat baik dalam segala hal, jangan kamu kira kamu telah berbuat baik terhadap segala sesuatu, sebelum kamu mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa Dia lah yang membuat sebab-sebab serta yang mewujudkan segala sesuatu.” Sedangkan di tangan yang satunya terdapat tulisan :”Sebelum mengenal Allah aku biasa minum dan haus lagi. Dan setelah mengenal Allah aku bisa merasa segar tanpa harus minum.”
            Tugas ketujuh : Menuntut ilmu dengan tujuan untuk menghiasi batin dengan sifat-sifat yang dapat mengantarkannya kepada Allah dan berada di sisi para malaikat yang selalu berada di dekat-Nya. Jadi bukan untuk memperoleh kekuasaan, harta, dan kedudukan.
Menerangkan Tentang Tugas-Tugas
Seorang Mursyid Yang Mengajar.

            Perilaku terbaik seorang pengajar ialah seperti yang dikatakan :”Siapa yang belajar, mengamalkan, dan mengajarkan, itulah yang dipanggil si besar dalam kerajaan langit.”
            Tidak sepatutnya ia laksana sebatang jarum yang mengenakan pakaian pada benda lain, sementara ia sendiri dalam keadaan telanjang. Atau laksana sumbu lampu yang menerangi benda lain, sementara ia sendiri terbakar, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair :
            Aku menjadi seolah-olah sumbu yang dipasang
            ia menerangi manusia
            sementara ia sendiri terbakar.
            Siapa yang menekuni tugas mengajar, berarti ia tengah menekuni suatu perkara yang sangat besar. Oleh karena itu ia harus menjaga adab-adab dan tugas-tugasnya :
            Tugas pertama : Sayang kepada murid dan bahkan menganggapnya seperti anaknya sendiri, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Sesungguhnya aku terhadap kalian itu seperti seorang ayah terhadap anaknya.” Bahkan seorang guru adalah ayah sejati bagi murid. Jika seorang ayah menjadi sebab pada kehidupan yang fana’, seorang guru justru menjadi sebab pada kehidupan yang kekal. Logis kalau seseorang harus lebih mendahulukan hak gurunya daripada hak kedua orang tuanya.
            Belajar dengan tujuan untuk mencari kesenangan duniawi adalah kebinasaan segala kebinasaan. Kalau demikian para murid yang satu guru harus saling mencintai. Sebab, pada hakekatnya ulama dan putra-putra akhirat itu adalah para musafir yang sedang bepergian menuju Allah Ta’ala. Mereka semua tengah menempuh jalan-Nya. Dunia berikut tahun-tahun dan bulan-bulan yang meliputinya adalah tempat-tempat persinggahan di tengah jalan. Di antara para musafir yang sedang mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain saja harus saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai. Apalagi dalam perjalanan yang menuju Allah Ta’ala dan syurga firdaus yang amat luas. Seharusnya dihindari saling bersaing dan berebut, berdasarkan firman Allah Ta’ala :”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (Surat Al Hujurat : 10)
            Tugas kedua : Menteladani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Ia tidak boleh menuntut upah dari mengajar. Allah Ta’ala berfirman :“Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Surat Al Insan : 9) Kendatipun ia berjasa atas mereka, mereka pun jasa atas dirinya, karena mereka lah yang menjadi sebab ia bisa dekat dengan Allah dengan cara menanamkan ilmu serta keimanan di dalam hati mereka.
            Tugas ketiga : Memberikan nasehat apa pun untuk kepentingan masa depan murid-murid. Contohnya seperti melarang mereka mencari kedudukan sebelum mereka layak mendapatkannya, dan juga melarang mereka menekuni ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan ilmu yang nyata.
            Tugas keempat : Memberi nasehat murid-murid dengan tulus, dan melarang mereka dari akhlak-akhlak yang tercela. Tetapi bukan dengan cara yang kasar, melainkan dengan cara sindiran. Sebab, cara yang kasar justru dapat merusak kewibawaan. Idealnya ia harus berlaku lurus, baru kemudian ia menuntun mereka juga berlaku lurus. Kalau ini dilanggar, nasehat tidak ada gunanya. Sebab, memberikan keteladanan dengan bahasa sikap itu lebih efektif daripada memberikan keteledanan dengan bahasa kata-kata.

Pasal Tentang Penyakit-Penyakit Ilmu
Dan Penjelasan Tentang
Tanda-Tanda Ulama Akhirat Dan Ulama Jahat.

            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :”Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat kelak ialah seorang yang berilmu tetapi Allah tidak memberikan kemanfa’atan pada ilmunya.”
            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda :”Siapa yang ilmunya bertambah namun petunjuknya tidak bertambah, niscaya ia hanya semakin menambah jauh dari Allah.”
            Ketahuilah, dengan menekuni suatu ilmu seorang alim  menghadapi dua kemungkinan; ia bisa celaka dan juga bisa mengalami kebinasaan yang abadi. [7]  Al Khalil bin Ahmad mengatakan :”Manusia itu ada empat. Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Dia itulah orang yang alim, maka ikutilah ia. Kedua, orang yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Dia itu orang yang tidur, maka bangunkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak tahu dan ia tahu bahwa ia memang tidak tahu. Itulah orang yang sedang membutuhkan petunjuk, maka ajarilah ia. Dan keempat, orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Itulah orang bodoh, maka waspadalah terhadapnya.”
            Sufyan mengatakan :”Ilmu itu memanggil amal. Jika dijawab, ilmu itu bermanfa’at. Dan jika tidak, ilmu akan pergi.” Allah Ta’ala berfirman :“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu.” (Surat Al A’raf : 175)
            Ulama akhirat ialah mereka yang tidak makan dunia dengan mengorbankan akhirat, dan tidak mau menjual akhirat dengan deunia. Soalnya mereka tahu bahwa akhirat itu mulia dan dunia itu hina. Siapa yang sampai tidak mengetahui pertentangan dunia berikut mudharat-mudharatnya dengan akhirat, ia bukan termasuk ulama. Dan siapa mengingkari hal itu, berarti ia mengingkari petunjuk Al Qur’an, sejarah-sejarah, semua kitab yang diturunkan, dan ucapan para nabi. Dan siapa mengetahui hal itu namun tidak mengamalkannya, berarti ia adalah tawanan syetan. Ia telah dibinasakan oleh kesenangan nafsunya sendiri dan ia pasti akan celaka. Siapa yang mengikuti orang seperti ini ia pun akan celaka. Dan orang yang berada dalam tingkatan seperti ini bagaimana mungkin bisa dianggap termasuk golongan ulama ?
            Saat berdialog dengan Daud, Allah Ta’ala berfirman :”Tahukah kamu, apa yang akan Aku lakukan terhadap orang alim yang lebih mementingkan kesenangan nafsunya daripada mencintai-Ku ? Aku haramkan ia bisa menikmati bermunajat dengan-Ku. Wahai Daud, jangan Tanya kepada-Ku tentang seorang alim yang sudah dibikin mabuk oleh dunia, karena ia akan menghalangimu dari jalan cinta-Ku. Mereka itu adalah gerombolan penyamun jalanan terhadap hamba-hamba-Ku. Wahai Daud, jika kamu melihat seorang penuntut ilmu, jadilah kamu sebagai pelayannya. Wahai Daud, siapa yang mengembalikan kepada-Ku orang yang lari, Aku mencatatnya sebagai orang yang gugur secara syahid. Dan siapa yang Aku catat sebagai orang yang gugur secara syahid, selamanya Aku tidak akan menyiksanya dengan api neraka.”
            Demikian pula yang dikatakan oleh Al Hasan :”Hukuman terhadap ulama ialah kematian hati, dan kematian hati ialah mencari kesenangan dunia dengan amal akhirat.”
            Umar bin Al Khattab Radhiyallahu Anhu mengatakan :”Jika kamu melihat seorang ulama mencintai dunia, curigailah ia akan merusak agamamu. Sebab, setiap orang yang mencintai itu pasti akan tenggelam dalam apa yang dicintainya.”
            Yahya bin Mu’adz Ar Razi mengatakan kepada ulama-ulama dunia :”Wahai para pemilik ilmu, istana kalian adalah seperti istana-istana kaisar, rumah-rumah kalian adalah seperti rumah kisra, pintu-pintu kalian adalah seperti pintu-pintu kaum zhahiriyah, sepatu-sepatu kalian adalah seperti sepatu-sepatu Jalut, kendaraan-kendaraan kalian adalah seperti kendaraan-kendaraan Qarun, bejana-bejana kalian adalah seperti bejana-bejana Fir’aun, upacara-upacara kalian adalah seperti ucapara-upacara kaum jahiliyah, dan madzhab-madzhab kalian adalah seperti madzhab-madzhab syetan. Lalu di mana syari’at Muhammad ?.”
            Ia lalu melantunkan sya’ir :
            Penggembala domba melindungi dari serangan srigala
            bagaimana jika si penggembala itu sendiri adalah srigalanya ?    
            Seorang penyair mengatakan :
            Wahai para pembaca Al Qur’an
            wahai garam negeri
            apa baiknya garam yang sudah rusak.
            Ketahuilah, sesungguhnya yang patut bagi seorang alim dan ta’at bergama ialah bahwa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya di dunia harus tengah-tengah. Artinya, tidak condong kepada kemewahan atau bergelimang nikmat, dan tidak berlebihan dalam kemewahan ini jika ia tidak bisa mencapai sifat zuhud. Sedapat-dapatnya jangan sampai ia menemui para penguasa dan para pendamba dunia, karena dikhawatirkan hal itu bisa menimbulkan fitnah.
Pasal Tentang Akal Dan Kemuliaannya.

            Akal adalah sumber ilmu. Tentang kemuliaan akal ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Pertama yang diciptakan oleh Allah adalah akal. Allah berfirman kepadanya :”Majulah.” Setelah akal menghadap, Allah berfirman kepadanya :”Mundurlah.” Dan akal pun mundur. Allah lalu berfirman :”Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia daripadamu. Karenamu Aku mengambil, karenamu Aku memberi, karenamu Aku memberi balasan pahala, dan juga karenamu Aku menyiksa.”
            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :”Aku bertanya kepada Jibril :”Apa itu as su’dad.” Jibril menjawab :”Akal.”
            Hakekat akal ialah naluri yang digunakan untuk memahami pengetahuan-pengetahuan yang bersifat teoritis. Akal seolah-olah adalah cahaya yang dimasukkan di dalam hati. Dengan akal manusia siap untuk memahami segala sesuatu. Dan akal berbeda-beda sesuai dengan perbedaan naluri. Wallahu a’lam.

ooo0ooo







[1] Kitab pertama, bagian dari seperempat yang membasah tentang msalah ibadah dalam kitab Ihya’ Ulum Al Din
[2] Demikian bunyi naskah yang dicetak. Di dalam kitab Ihya’ Ulum Al Din disebutkan, orang-orang di sekitarnya sama menjawab :”Benar.” Disebutkan dalam Mughni Al Labib oleh Ibnu Hisyam Al Anshari, kalimat Bala itu kalimat jawaban yang memiliki arti khusus menafikan atau berarti membatalkan atau menyangkal pertanyaan. Contohnya seperti firman Allah surat Al A’raf ayat 172 “Tidakkah Aku ini Tuhanmu ?.” Menurut Ibnu Abbas, kalau pertanyaan Allah tersebut dijawab :”Ya”, maka bisa menyebabkan kafir. Jadi jawaban “Ya” tersebut harus diartikan membenarkan si penanya.
[3] Ini kalimat yang terdapat dalam Ihya’ Ulum Al Din. Tetapi kalimat dalam naskah yang dicetak berbunyi :” Sesungguhnya  mempelajari ilmu karena Allah adalah suatu kebajikan.” Jadi ada salah penulisan.
[4] Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu syari’at ialah ilmu yang diambil dari para nabi. Akal tidak bisa menunjukkanya seperti ilmu berhitung, tidak bisa dilakukan eksperimen seperti ilmu kedokteran, dan tidak bisa didengar seperti ilmu bahasa.
[5] Demikian kalimat yang terdapat dalam Al Ihya’. Dalam Ithaf Al Saddat Al Muttaqin Bi Syarhi Ihya’ Ulum Al Din oleh Sayid Muhammad bin Muhammad Al Husaini Az Zabidi atau yang lebih dikenal dengan nama Al Murtadha disebutkan, yang dimaksud ialah mengerahkan segenap kemampuan untuk menyiarkan ilmu fiqih dan berbagai jenisnya.
[6] Isi hadis selengkapnya ialah :”Jika disebut-sebut tentang takdir, maka diamlah. Jika disebut-sebut tentang perbintangan, maka diamlah. Dan jika disebut-sebut tentang sahabat-sahabatku, maka diamlah.” Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dengan isnad yang sangat bagus.
[7] Demikian kalimat yang terdapat dalam naskah yang dicetak. Sedangkan di dalam Al Ihya disebutkan, seseorang seorang ulama itu bisa terjerumus kepada kehancuran yang abadi atau memperoleh kebahagiaan yang kekal. Dengan menekuni suatu ilmu ia bisa tidak selamat kalau ia tidak sampai mendapati kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar