Judul asli : Mukhtashar Ihya’ Ulum Al Din
(Al Mursyid Al Amin)
Pengarang : Al Imam Abu Hamid Muhammad
Al Ghazali
Penerbit : Dar Al Kutub Al
Islamiyat
Tashih Dan Ta’liq : Alawi Abu Bakar Muhammad Asy Syiqaf
Dosen Fakultas Kajian-Kajian Islam Dan Bahasa
Arab
Universitas Al Azhar
MUKADIMAH.
Segala puji
kepunyaan Allah yang menolong bagi tersiar dan tersebar luasnya
kebaikan-kebaikan dalam sebuah kitab yang sangat bagus, dan yang menjadikan
kitab ini sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi mata orang-orang tercinta dan sebagai
simpanan untuk hari akhirat kelak. Semoga rahmat serta salam sejahtera
senantiasa dicurahkan kepada junjungan kita Muhammad yang kerena syari’at dan
thariqatnya hidup maka hati orang-orang yang berakal pun ikut hidup, kepada
anggota keluarganya yang suci bersih, dan kepada seluruh sahabat. Semoga itu
yang terjadi sepanjang matahari ihya’ masih
menyinari hati, dan sepanjang cita-cita spriritul penulisnya sang wali yang
mendapatkan karunia Allah masih tetap dipelihara oleh orang-orang yang tekun
mentela’ah dan mencintai kitab ini.
Selanjutnya, imam
Al Ghazali Rahimahullah menjadikan
kitabnya Ihya’ Ulum Al Din atas empat
bagian, sebagaimana yang ia katakan dalam kata pengantarnya :”Aku mendasarkan
kitab ini atas empat bagian. Seperempat membahas tentang ibadah-ibadah,
seperempat membahas tentang tradisi-tradisi, seperempat membahas tentang
amal-amal yang mencelakakan, dan seperempat lagi membahas tentang amal-amal
yang menyelamatkan.”
Lebih lanjut Al
Ghazali Rahimahullah mengatakan
:”Pada bagian seperempat yang pertama, saya kemukakan adab-adab ibadah yang
tidak diketahui oleh banyak orang, tentang kesunatan-kesunatannya yang halus,
dan tentang rahasia-rahasia maknanya yang sangat dibutuhkan oleh orang yang
mengetahui sekaligus yang mengamalkannya. Bahkan di antara ulama-ulama akhirat
ada yang tidak pernah mentela’ahnya. Bahkan sebagian besar hal itu adalah
masalah-masalah fiqih yang terabaikan. Pada bagian seperempat yang kedua, saya
kemukakan tentang rahasia-rahasia mu’amalat atau tata pergaulan yang berlaku di
antara sesama manusia, tentang kesunatan-kesunatannya yang halus, dan tentang sifat
wira’i yang lolos dari pengetahuan banyak orang. Padahal ini sangat dibutuhkan
oleh orang-orang yang ta’at beragama. Pada bagian sepermpat yang ketiga, saya
kemukakan seluruh akhlak yang tercela, dan penolakan Al Qur’an dengan cara
menjauhi, menghindari, serta membersihkan hati darinya. Pada bagian ini saya
jelaskan masing-masing hakekat akhlak tercela tersebut, penyebab-penyebab yang
menimbulkannya, bahaya-bahaya yang diakibatkannya, tanda-tandanya yang bisa
dikenali, dan cara-cara yang dapat menyelematkan darinya. Semua itu disertai
dengan dalil-dalil ayat Al Qur’an, hadis, dan atsar. Dan pada bagian seperempat
yang keempat, saya kemukakan semua akhlak terpuji dan salah satu sifat di
antara sekian banyak sifat orang-orang yang jujur serta dekat dengan Allah, dan
hal itulah yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada
Allah Tuhan seru semesta alam. Pada bagian ini saya juga akan menjelaskan
masing-masing hakekat akhlak tersebut, sebab-sebab yang dapat mendorongnya,
buah hasilnya yang amat berguna, tanda-tandanya yang bisa dikenali, dan
keutamaannya yang menarik untuk melakukannya dengan senang hati. Dan semua itu
juga disertai dengan dalil-dalil dogama serta dalil-dalil akal.
Ketahuilah,
sesungguhnya kelebihan-kelebihan kitab Al
Ihya’ Ulum Al Din sangat banyak. Bahkan setiap kelebihannya juga tidak
terhitung. Orang-orang menghimpun biografi Al Ghazali, tetapi mereka lalu
lalai. Masih banyak yang belum mereka ketahui. Banyak ulama yang memuji kitab
ini.
Al Hafizh imam Abul Fadhal Al Iraqi dalam kitabnya Al Takhrij misalnya mengatakan :”Ini
adalah kitab Islam paling besar yang menerangkan tentang masalah halal dan
haram.”
An Nawawi mengatakan :”Kitab Al Ihya’ ini hampir seperti Al Qur’am.”
Syaikh Abdullah Al Abdarus Radhiyallahu Anhu seorang wali sekaligus ulama besar hampir hapal
kitab ini di luar kepala.
Diceritakan darinya bahwa ia mengatakan :”Selama beberapa
tahun mentela’ah setiap pasal bahkan setiap huruf kitab Al Ihya’, mencermati, dan merenungkannya, hampir setiap hari aku
berhasil memperoleh ilmu, rahasia-rahasia besar, dan pemahaman-pemhamaman
mendalam yang tidak aku peroleh sebelumnya. Sulit mencari orang seperti penulis
kitab ini. Saya sangat mengagumi Al Ghazali berikut karyanya Al Ihya’. Ia mengajak manusia membaca
kitab ini dengan bahasa lisan dan tindakan nyata. Dan ia pun menganjurkan
mereka untuk tekun mentela’ahnya serta mengamalkan isinya.”
Di antara yang dikatakan oleh Syaikh Abdullah Al Abdarus
Rahimahullah ialah :”Kalian, wahai
saudara-saudaraku, harus mengikuti Al Qur’an dan as sunnah. Maksud saya ialah
syari’at yang dijabarkan dalam kitab-kitab karya Al Ghazali, terlebih kitab Dzikru Al Maut (Ingat Mati), kitab Al Fiqru Wa Al Zuhdu (Miskin Dan Zuhud),
kitab Al Taubat (Taubat), dan kitab Riyadhat Al Nafsi (Melatih Jiwa).”
Di antara yang dikatakannya dengan ringkas dan padat
ialah :”Seandainya Allah Ta’ala menghidupkan
kembali orang-orang yang sudah mati, niscaya orang-orang yang masih hidup hanya
meminta wasiat pada isi kitab Al Ihya’.”
Ia juga mengatakan :”Siapa ingin menempuh jalan Allah,
jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa
Sallam, jalan orang-orang yang mengenal Allah, dan jalan para ulama ahli
syari’at maupun ahli thariqat, mau tidak mau ia harus mentela’ah kitab-kitab
karya Al Ghazali, terutama kitab Ihya’
Ulum Al Din. Kitab ini adalah samudera yang sangat dalam.”
Kalau syaikh Al Abdarus saja begitu antusias mendalami
kitab ini dengan detail, maka kesaksiannya lebih berarti daripada kesaksian
sejuta orang.
Sayid agung yang mengenal Allah atau yang lebih dikenal
dengan nama Ali Abu Bakar bin Asy Syaikh Abdurrahman As Saqaf mengatakan :”Seandainya
orang kafir mau membolak-balikkan halaman kitab Al Ihya’, ia akan masuk Islam.”
Di dalam kitab ini ada rahasia tersembunyi yang mampu
menarik hati laksana magnit. Yang dimaksud dengan orang kafir di sini ialah
orang yang jelas-jelas tidak mengetahui aib-aib dirinya, dan yang tidak dapat
mengenali kebenaran. Artinya, hanya dengan mentela’ah kitab Al Ihya’, Allah akan melapangkan dadanya
dan menerangi hatinya. Sebab, nasehat yang keluar dari hati yang tulus itu
layak menjadi pelajaran bagi orang yang mendengarnya.
Berikut adalah bait-bait sya’ir yang dilantunkan oleh
Syaikh Ali Abu Bakar Rahimahullah untuk
dirinya sendiri :
Saudaraku,
bangkit dan
tempuhlah jalan-jalan lurus itu
lekaslah menuju
Tuhan dengan segenap semangat
Wahai pencari
kandungan Al Qur’an,
as sunnah, dan keputusan nurani
hati adalah
samudera kelembutan
yang menerangi jalan hakekat
yang mengungkap dzikir-dzikir penuh makna
dan yang mempesona
semua makhluk
Tekunilah Ihya’
Ulumuddin berikut isi dan rahasia-rahasianya
Berapa banyak
kelembutan di dalamnya
menyegarkan orang yang haus ilmu
berapa banyak
keelokan
menawan orang yang
pintar
Inilah kitab agung
yang tidak ada
bandingan sebelum dan sesudahnya
yang sarat dengan
jalan-jalan lurus
dengan kebun-kebun
ma’rifat
dengn taman-taman
kelembutan
dan dengan syurga
aneka ilmu.
Mengenai beberapa bagian yang secara lahiriah dinilai
tidak jelas – meskipun setelah ditahqiq
sudah tidak ada masalah – atau beberapa hadis atau beberapa atsar yang
dianggap lemah, Al Ghazali terus terang membicarakan tentang sanadnya.
Di antara yang mengagumi kitab Al Ihya’ ialah Al Hafizh Al Iraqi. Ia mengatakan :”Sebagian besar
hadis yang dikemukakan oleh Al Ghazali bukanlah hadis maudlu’, seperti yang ia
buktikan dalam takhrijnya. Selebihnya, dan itu sangat sedikit sekali, Al Ghazali
meriwayatkannya dari orang lain, atau ia hanya mengutip dengan menghindari
kalimat diriwayatkan.”
Tentang serangan bahwa banyak hadis dla’if yang
diriwayatkan oleh Al Ghazali, itu adalah serangan yang sangat naïf, karena
hadis-hadis dla’if itu bisa diamalkan untuk masalah-masalah yang menyangkut
keutamaan. Sebagai contoh ialah kitab Al Ghazali yang membahas tentang
kelembutan-kelembutan. Lagi pula Al Ghazali mengikuti kitab-kitab para imam
bergelar Al Hafizh yang juga
mengemukakan hadis dla’if. Sebagian
orang memang mengingatkan hal itu, namun sebagian lagi mendiamkannya saja. Itu
adalah kitab-kitab fiqih karya ulama-ulama terdahulu, yaitu kitab-kitab yang
membahas tentang hukum-hukum, bukan tentang keutamaan-keutamaan. Dalam
kitab-kitab tersebut mereka juga mengemukakan hadis-hadis dla’if, namun
didiamkan saja. Sampai-sampai An Nawawi Rahimahullah,
salah seorang ulama dari generasi belakangan, juga mengingatkan tentang
hadis dla’if, sebagaimana semua itu telah diisyaratkan oleh Al Iraqi.
Tentang biografi Al Ghazali Rahimahullah, beliau ialah imam Zainuddin Hujjatul Islam alias Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad
Al Ghazali Ath Thusi An Nasaiburi, seorang ulama sufi ahli fiqih yang
bermadzhab Syafa’i dan Al Asy’ari yang keutamaannya sudah tersiar di seluruh
penjuru dunia. Beliau dianugerahi bakat kemampuan luar biasa dalam menulis dan
mengarang yang bagus. Tulisan beliau sarat dengan ungkapan-ungkapan yang mudah
dipahami, dan isyarat-isyarat yang gampang dicerna. Beliau sangat mendalami
berbagai disiplin ilmu yang pokok maupun yang cabang, sangat fasih dalam
mengemukkan dalil-dalil naql maupun dalil aql, dan sangat menguasai dalil-dali
global maupun dalil-dalil yang detail. Selain itu secara khusus Allah
menganugerahinya karomah, perilaku yang baik, sifat istiqamah, sifat zuhud, dan
sifat wira’i. Semua itulah yang mendorong beliau selalu menjauhi bunga-bunga
dunia, berpaling dari hal-hal yang fana’, dan enggan bersusah payah demi
menuruti kesenangan-kesenangan nafsu.
Al Hafizh Al Allamah Ibnu Asakir, Syaikh Afifuddin
Abdullah bin As’ad Al Yafi’i, dan Al Faqih Jamaluddin Abdurrahim Al Asnawi Rahimahumullah mengatakan :”Imam Al
Ghazali lahir di Thus pada tahin 150 hijriyah bertepatan dengan tahun 1058
masehi. Sejak masih kecil beliau sudah mempelajari ilmu fiqih. Beliau pergi ke
kota Naisabur dan berguru kepada imam Al Haramain. Berkat ketekunan dan
kesungguhannya belajar, dalam waktu singkat beliau tumbuh menjadi salah seorang
ulama yang cukup menonjol di zamannya. Sewaktu menjadi imam, selain mengajar
dan membimbing murid-murid, beliau juga aktif menulis. Beliau semakin popular
dan kedudukannya sudah diperhitungkan.
Mengomentar sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang
menyatakan bahwa pada setiap permulaan seratus tahun Allah Ta’ala akan menampilkan untuk umat ini seseorang yang memperbaharui
agama mereka, beberapa ulama Radhiyallahu Anhum, antara lain Syaikh Al Imam Al Hafizh Ibnu
Asakir mengatakan :”Pada permulaan seratus tahun pertama orang itu ialah Umar
bin Abdul Aziz Radhiyallahu Anhu, pada
permulaan seratus tahun kedua orang itu ialah imam Asy Syafi’i Radhiyallahu Anhu, pada permulaan
seratus tahun ketiga orang itu ialah Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari Radhiyallahu Anhu, pada permulaan
seratus tahun keempat orang itu ialah
Abu Bakar Al Baqilani Radhiyallahu Anhu, dan pada permulaan seratus tahun kelima orang
itu ialah Abu Hamid Al Ghazali Radhiyallahu
Anhu.”
ooo0ooo
BAB I
TENTANG ILMU DAN BELAJAR. [1]
Di dalam Al Qur’an terdapat beberapa dalil tentang
keutamaan ilmu. Antara lain ialah firman Allah Ta’ala “Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. “ (Surat Al Mujadilah : 11)
Ibnu Abbas Radhiyallahu
Anhuma mengatakan :”Para ulama itu memiliki sebanyak tujuh ratus derajat di
atas derajat orang-orang mukmin. Jarak antara dua derajat ialah sejauh
perjalanan lima ratus tahun. Allah Ta’ala
berfirman :“Katakanlah: "Adakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.” (Surat Az Zumar : 9)
Allah Ta’ala berfirman
:“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”(Surat Fathir : 28)
Allah Ta’ala juga
berfirman :“Dan perumpamaan-perumpamaan
Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang
yang berilmu.” (Surat Al Ankabut : 43)
Di antara hadis yang menerangkan tentang keutamaan
derajat para ulama ialah sabda Nabi Shallallahu
Alaihi Wa Sallam :
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ
الأَنْبِيَاءِ
”Para ulama
adalah pewaris nabi-nabi.”
Beliau bersabda :”Sebaik-baik manusia ialah seorang
mukmin yang jika dibutuhkan ia berguna, dan jika tidak dibutuhkan ia berguna
bagi dirinya sendiri.” Beliau bersabda :”Iman itu telanjang. Pakaiannya ialah
ketakwaan, perhiasannya ialah rasa malu, dan buah hasilnya ialah ilmu.” Beliau
bersabda :”Manusia yang paling dekat dengan derajat nubuwah ialah para ulama
dan para pejuang. Adapun para ulama, karena mereka benar-benar telah
menunjukkan manusia kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Sementara para
pejuang, mereka telah berjihad dengan menggunakan pedang-pedang mereka demi apa
yang dibawa oleh para rasul.” Beliau bersabda :”Seorang ulama itu adalah
kepercayaan Allah di muka bumi.” Dan beliau juga bersabda :”Pada hari kiamat
kelak para nabi dimintai syafa’at, lalu para ulama, kemudian para syuhada’.”
Fathu Al Mushili mengatakan :”Bukankah orang yang sakit
kalau dilaang makan, minum, dan berobat ia akan mati ? [2]
Demikian pula dengan hati. Jika dilarang atau tidak diberi hikmah dan ilmu
selama tiga hari saja, ia pun akan mati.” Fathu Al Mushili benar. Sebab,
santapan hati ialah ilmu dan hikmah. Bahkan dengan keduanya hati bisa bisa
hidup. Sama seperti halnya santapan bagi tubuh ialah makanan dan minuman. Siapa
kehilangan ilmu hatinya sakit dan ia pasti mati. Sedang ia tidak merasakannya.
Sebab, kesibukan-kesibukan urusan duniwi telah melumpuhkan perasaan-perasaannya.
Dan ketika kematian telah menelanjangi kesibukan-kesibukan tersebut, ia akan
mengalami ras sakit yang sangat besar dan merasakan penderitaan yang tidak
ujungnya sama sekali. Itulah makna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Manusia itu sama tidur. Manakala
telah mati mereka baru bangun.”
Tentang keutamaan ilmu, hal itu ditunjukkan oleh sabda
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Sesungguhnya
para malaikat sama meletakkan sayapnya pada seorang penuntut ilmu karena ridha
terhadap apa yang dilakukannya.”
Beliau juga bersabda :”Kepergianmu untuk mempelajari
satu bab ilmu adalah lebih baik daripada kamu shalat seratus raka’at.”
Abu Darda’ berkata :”Siapa yang mengggap pergi mencari
ilmu itu bukan jihad, berarti ada kekurangan pada pikiran dan akalnya.”
Dan tentang keutamaan mengajarkan ilmu, hal itu
ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala :“Dan
(ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi
Kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia,
dan jangan kamu menyembunyikannya” (Surat Ali Imran : 187)
Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wa Sallam bersabda :”Setiap
kali Allah memberikan ilmu kepada orang yang berilmu, berarti Allah mengambil
janji darinya seperti Allah mengambil jani dari para nabi agar mereka
menjelaskannya dan mereka tidak boleh menyembunyikannya.”
Ketika hendak mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berpesan
:”Sesungguhnya jasamu berhasil membuat seseorang mendapatkan petunjuk Allah itu
lebih baik bagimu daripada dunia se isinya.”
Umar bin Al Khattab Radhiyallahu
Anhu berkata :”Siapa menceritakan sebuah hadis lalu ia mengamalkannya,
baginya mendapatkan seperti pahala amal itu.”
Mengenai keutamaan mempelajari ilmu dan mengajarkannya,
terdapat riwayat marfu’ dari Mu’adz bin Jabal :”Pelajarilah ilmu, karena
sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah ungkapan rasa takut, [3]
menuntutnya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menelitinya adalah jihad,
mengajarkannya adalah sedekah, dan memberikannya kepada orang yang tepat adalah
amal yang dapat mendekatkan kepada Allah. Ilmu adalah penghibur di kala
sendiri, teman di kala sepi, petunjuk di kala suka maupun duka, pembantu di
kala sendirian, pendamping di kala tidak ada kawan-kawan, dan cahaya jalan
menuju syurga. Dengan ilmu Allah mengangkat derajat beberpa kaum, sehingga
dalam hal kebaikan Allah menjadikan mereka sebagai pembimbing serta penunjuk
yang dijadikan pedoman, pelopor dalam hal kebajikan yang akan selau diikuti
jejak-jejak langkah mereka, yang akan selalu ditiru perbuatan-perbuatan mereka,
dan yang mendorong maliakat tertarik sifat-sifat mereka sehingga mau mengusap
mereka dengan sayap-sayapnya. Semua
benda yang basah dan yang kering membacakan tasbih dan memohonkan ampunan untuk
mereka, termasuk ikan-ikan berikut bianatang-binatang lain yang ada di
samudera, binatang-binatang buas maupun binatang-binatang jinak di daratan, dan
langit berikut bintang-bintangnya. Soalnya ilmu lah yang menghidupkan hati dari
kebutaan, dan yang memberi cahaya penglihatan dari kegelapan. Ilmu dapat
menguatkan badan dari kelemahan. Dengan ilmu seorang hamba dapat mencapai
kedudukan-kedudukan orang-orang yang berbakti dan derajat-derajat yang tinggi.
Pahala merenungkan ilmu itu sebanding dengan pahala puasa, dam pahala pengkajinya
sebanding dengan pahala menjalankan shalat sunnat malam. Ilmu adalah bekal
untuk ta’at, menyembah, mengesakan, dan takut kepada Allah. Ilmu adalah alat
untuk menyambung hubungan-hubungan keluarga. Ilmu adalah imam, dan amal adalah
makmumnya. Orang-orang yang bahagia ialah yang diberikan ilmu, dan orang-orang
yang celaka ialah yang dihalangi darinya.”
Dari segi akal, keutamaan ilmu sangat jelas. Sebab,
dengan ilmu seseorang bisa sampai kepada Allah Ta’ala, bisa dekat dengan-Nya, dan bisa berada di sampign-Nya. Ilmu
adalah kebahagiaan yang langgeng, dan nikmat abadi yang tiada habis-habisnya .
Di dalam ilmu terletak kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Dan pada
hakekatnya, dunia itu lading akhirat. Seorang yang berilmu, dengan ilmunya ia
menanam kebahagiaan yang kekal, karena dengan ilmunya ia dapat mendidik akhlak
manusia dan mengajak mereka kepada amal-amal yang akan mendekatkan mereka
kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala
:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.“ (Surat An Nahl : 125) Ia
mengajak orang-orang khusus dengan menggunakan hikmah, mengajak orang-orang
awam dengan menggunakan nasehat-nasehat, dan mengajak orang-orang yang keras
kepala dengan menggunakan perdebatan. Selain itu ia dapat menyelamatkan dirinya
dan juga orang lain. Dan itulah letak kesempurnaan manusia.
Pasal Menerangkan
Tentang Ilmu Yang Terpuji Dan Ilmu Yang Tercela
Dan Menerangkan Tentang Fardhu Ain Dan Fardhu Kifayah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
”Mencari ilmu
itu sangat fardhu bagi orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan.”
Sesudah baligh dan
sesudah menyatakan masuk Islam, salah satu yang harus dilakukan oleh seseorang
ialah mengetahui dua kalimat syahadat dan memahami maknanya. Ia tidak wajib
mengetahui hukum-hukum kedua syahadat tersebut
dengan menggunakan bukti-bukti. Tetapi ia cukup menyakini hal itu tanpa
bimbang dan tanpa ragu-ragu, kendatipun hanya dengan bertaklid. Demikian yang
dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wa Sallam terhadap orang-orang dusun yang masuk Islam.
Setelah itu ia wajib
sibuk mempelajari perintah-perintah Allah Ta’ala
yang selalu dibebankan kepadanya. Contohnya seperti shalat sesuai dengan
yang diperintahkan. Ia harus mempelajari shalat ketika diwajibkan, dan siap
sedia sebelum diwajibkan. Demikian pula dengan puasa. Ia juga harus mempelajari
zakat jika ia memiliki harta yang memang wajib dizakati setelah genap satu
tahun dan sesudah ia menjadi muslim. Kewajiban yang dibebankan kepadanya itu
menurut kadar kebutuhan. Dan ia harus ingat akan kewajiban pergi haji yang
diwajibkan kepadanya. Namun ia tidak harus segera mempelajari ilmunya,
sebagainana ia juga tidak harus segera menjalankannya.
Ia juga harus
mempelajari kemaksiatan-kemaksiatan yang wajib ditinggalkannya sepanjang waktu
sesuai dengan batas-batas perintah. Jika ada keraguan dalam hatinya terhadap
keyakinan-keyakinannya, ia wajib belajar dan memikirkan sekedar yang dapat
menghilangkan keraguan-keraguannya. Mempelajari ilmu yang dapat menyelamatkan
dari hal-hal yang mencelakakan, dan dapat meraih serta memperoleh
derajat-derajat peningkatan, adalah fardhu ain. Sementara mempelajari ilmu-ilmu
lain hukumnya fardhu kifayah, bukan fardhu ain.
Ketahuilah,
sesungguhnya tingkatan-tingkatan ilmu itu sesuai dengan kedekatannya pada ilmu
akhirat dan sesudahnya. Sebagaimana ilmu-ilmu syari’at [4]
yang mengungguli ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang terkait dengan
kebenaran-kebenaran syari’at juga mengungguli ilmu-ilmu yang hanya terkait
dengan hukum-hukum secara lahiriah. Seorang yang punya ilmu agama mendalam, ia
hanya bisa menghukumi kebenaran dan kerusakan sesuatu yang bersifat lahiriah.
Di balik itu ada ilmu yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu ibadah
diterima atau ditolak. Dan itulah yang disebut dengan ilmu-ilmu tasawuf yang
akan diterangkan nanti.
Ulama-ulama
terkenal yang pendapat mereka diikuti dan dijadikan pegangan oleh manusia,
karena mereka sanggup menghimpun antara ilmu fiqih dan ilmu-ilmu hakekat
berikut pengamalannya. Hal itu diketahui dengn mengungkap hal ihwal mereka dan
mengutip pendapat-pendapat mereka. Mereka ada lima orang; yakni imam Asy
Syafi’i, imam Malik, imam Abu Hanifah, imam Ahmad bin Hanbal, dan imam Sufyan
Ats Tsauri Rahmatullahi Alaihim. Masing-masing
mereka terkenal rajin beribadah, zuhud, dan memiliki pengetahuan yang mendalam
di bidang ilmu-ilmu akhirat, sebagaimana juga memiliki pengetahuan yang
mendalam di bidang ilmu fiqih lahiriah yang terkait dengan
kemaslahatan-kemaslahatan makhluk. Mereka menginginkan seluruh ilmu yang
dimiliki hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Itulah lima sifat yang diikuti oleh para ulama ahli fiqih
masa kini. Salah satu di antaranya ialah kampanye besar-besaran [5]
dalam membagi ilmu fiqih. Sebab, empat sifat lainnya hanya cocok untuk urusan
akhirat. Dan yang satu ini patut untuk dunia sekaligus akhirat. Berikut ini
kami ingin mengemukakan hal ihwal mereka yang menunjukkan keempat sifat tersebut.
Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dalam kapasitasnya sebagai
seorang yang tekun beribadah, ia membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian;
sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga lagi untuk tidur.
Kata Ar Rabi’
:”Imam Asy Syafi’i Rahimahullah mengkhatamkan
Al Qur’an setiap malam.”
Al Husain Al
Karabisi Rahimahullah bercerita :”Aku
sering menginagp bersama Asy Syafi’i. Sepertiga waktu malam ia gunakan untuk
shalat. Maksimal ia membaca lima puluh ayat. Jika kurang lama, ia membaca seratus
ayat. Setiap sampai pada ayat yang menyebutkan tentang rahmat, ia pasti memohon
kepada Allah Ta’ala untuk kepentingan
dirinya dan juga kepentingan seluruh orang-orang mukmin. Dan setiap sampai pada
ayat yang menyinggung tentang siksa, ia selalu memohon perlindungan kepada
Allah daripadanya. Kepada Allah ia juga memohon keselamatan untuk diri sendiri
dan untuk seluruh orang-orang mukmin. Kalau ia hanya membaca maksimal lima
puluh ayat, hal itu menunjukkan bahwa ia sangat menguasai dan mendalami
rahasia-rahasia Al Qur’an.”
Imam Asy Syafi’i
mengatakan :”Sejak usia enam belas tahum aku tidak pernah kenyang. Soalnnya
kenyang itu dapat membuat tubuh menjadi terasa berat, membikin hati menjadi
keras, menghilangkan kecerdasan, mengundang nafsu tidur, dan melemahkan orang
yang bersangkutan dari beribadah.”
Ia juga mengatakan
:”Aku tidak pernah bersumpah demi Allah Ta’ala,
baik sebagai orang yang jujur maupun orang yang dusta.”
Pada suatu hari
imam Asy Syafi’i ditanya tentang suatu masalah. Tetapi ia diam saja. Dan ketika
ditanya, kenapa anda tidak menjawab ? Ia berkata :”Aku menunggu sampai aku
yakin, apakah yang terbaik aku harus diam atau harus menjawab.”
Ahmad bin Yahya
bercerita :”Pada suatu hari imam Asy Syafi’i keluar dari sebuah took yang
menjual lampu-lampu. Kami sengaja mengikutinya. Tiba-tiba ada seseorang yang
mencela orang lain yang termasuk ulama. Imam Syafi’i menoleh ke arah kami dan
berkata :”Jagalah pendengaran kalian jangan sampai mendengarkan ucapan yang
keji, sebagaimana kalian menjaga lidah kalian jangan sampai mengucapkannya.
Sesungguhnya orang yang mendengarkan adalah sekutu orang yang mengucapkan. Sesungguhnya orang bodoh itu suka melihat
sesuatu yang sangat buruk dalam bejananya, lalu ia ingin sekali menuangkannya
ke dalam bejana kalian. Jika ucapan orang yang bodoh itu disangkal, sungguh
beruntung orang yang menyangkalnya, sebagaimana hal itu membuat celaka orang
yang mengucapkannya.”
Asy Syafi’i
mengatakan :Seorang bijak menulis surat kepada sesama orang bijak “Anda telah
dianugerahi ilmu. Oleh karena itu jangan Anda nodai ilmu Anda dengan kegelapan
dosa-dosa. Akibatnya, Anda akan tetap dalam kegelapan pada saat para ahli ilmu
menikmati cahaya ilmu mereka.”
Tentang sifat zuhud
imam Asy Syafi’i Rahimahullah, adalah
seperti yang dikatakannya :”Siapa yang mengaku mencintai duniawi sekaligus
mencintai Allah Yang Maha Pencipta, berarti ia berdusta.”
Pada suatu hari
cemeti di tangan Asy Syafi’i terjatuh. Lalu seseorang mengambilkannya. Demi
membalas kebaikan orang tersebut, Asy Syafi’i memberinya uang sebanyak lima
puluh dinar. Kedermawanan Asy Syafi’i sudah sangat terkenal.
Salah satu yang
membuktikan bahwa Asy Syafi’i sangat takut kepada Allah Ta’ala dan hasratnya hanya terfokus pada urusan akhirat ialah apa
yang diceritakan tentang dirinya :”Sesungguhnya Sufyan bin Uyainah meriwayatkan
sebuah hadis tentang kelembutan-kelembutan. Dan tiba-tiba ia jatuh pingsan.
Bahkan ada yang mengatakan, ia telah meninggal dunia. Sufyan bin Uyainah
menjawab :”Jika ia meninggal dunia, maka mati pula orang yang paling utama di
zamannya.” Seseorang yang lain membaca ayat :“Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),” (Surat
Al Mursalat : 35) Asy Syafi’i terlihat telah berubah warna mukanya, tubuhnya
menggigil keras, lalu ia jatuh pingsan. Begitu siuman ia berkata :”Aku
berlindung kepada Engkau dari posisi orang-orang yang berdusta dan dari
penyimpangan orang-orang yang lalai. Ya Allah, kepada Engkau hati orang-orang
arifin sama tunduk, dan orang-orang yang rindu sama merendah karena merasa
takut kepada Engkau. Ya Allah, anugerahkan kepadaku kemurahan-Mu , dan
naungilah aku dengan satir-Mu. Dengan Dzat-Mu yang mulia, tolonglah aku dan
ma’afkanlah kesalahanku.”
Salah satu bukti
yang menunjukkan bahwa Asy Syafi’i itu orang yang mengetahui rahasia-rahasia
hati ialah ketika ia ditanya tentang masalah sifat riya’ atau pamrih. Dengan
sepontan ia menjawab :”Riya’ itu fitnah yang juga diikatkan oleh nafsu pada tali-tali pandangan mata hati para ulama.
Sehingga mereka melihatnya dengan kesadaran jiwa yang buruk. Akibatnya, amal-amal mereka
menjadi rusak dan batal.”
Lebih lanjut ia
mengatakan :”Jika kamu mengkhawatirkan diri berlaku ujub, lihat keridhaan siapa
yang kamu cari, nikmat apa saja yang kamu inginkan, siksa apa yang kamu
hindari, keselamatan apa saja yang kamu syukuri, dan bencana apa saja yang kamu
ingat.”
Salah satu bukti
yang menunjukkan Asy Syafi’i hanya menginginkan keridhaan Allah dari ilmu yang
ia miliki dan dari berdiskusi yang ia lakukan, ialah pernyataannya :”Aku ingin manusia
memanfa’atkan ilmu ini, dan sama sekali tidak perlu menghubung-hubungannya
denganku.” Ini artinya jelas bahwa Asy Syafi’i tidak ingin mencari populeritas
di tengah-tengah masyarakat dan kesenangan yang palsu.
Ia mengatakan :”Ketika
berdebat dengan siapapun, saya tidak ingin ia berbuat salah atau di pihak yang
keliru. Setiap kali berbicara dengan siapa pun, saya sangat berharap ia setuju,
membenarkan, dan beroleh pertolongan, sehingga ia akan memperoleh perhatian
serta penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan
setiap kali berbicara dengan siapa pun, saya hanya ingin semoga Allah
menjelaskan kebenaran lewat lisannya atau lewat lisanku.”
Ahmad bin Hanbal
mengatakan :”Selama empat puluh tahun, setiap kali selesai shalat aku selalu
mendo’akan Asy Syafi’i.”
Tentang imam Malik Rahimahullah, ia adalah orang yang
menyandang kelima sifat tersebut. Salah satu bukti yang menunjukkan atas hal
itu ialah ketika ditanya :”Wahai Malik, bagaimana pendapat Anda tentang
menuntut ilmu ?”, ia menjawab :”Sangat bagus. Tetapi kamu harus memikirkan apa
pun yang bisa membuatmu menekuninya
sejak paagi hingga petang hari, maka tekunilah.”
Kata Asy Syafi’i Rahimahullah :”Aku pernah melihat Malik
ditanya tentang empat puluh masalah. Dan tiga puluh di antara pertanyaan itu ia
jawab :”Saya tidak tahu.” Sifat zuhud dan wira’inya terlalu popular untuk hanya
sekedar diingat.”
Imam Abu Hanifah Rahimahullah pun demikian. Diceritakan,
ia biasa terjaga selama separoh malam. Pada suatu hari ada seseorang yang
bilang kepada temannya, bahwa imam Abu Hanifah biasa terjaga semalam suntuk.
Sehingga setelah itu imam Abu Hanifah selalu terjaga semalam suntuk untuk
beribadah. Ia mengatakan :”Aku merasa malu kepada Allah dikatakan melakukan
sesuatu yang tidak aku lakukan seperti itu.”
Begitu pula dengan
imam Ahmad bin Hanbal dan imam Sufyan Ats Tsauri. Sifat zuhud dan wira’i mereka
terlalu popular untuk hanya sekedar diingat. Pada pembicaraan dalam buku ini
nanti akan dikemukakan hikayat-hikayat yang menunjukkan atas hal itu. Sekarang
mari kita lihat orang-orang yang mengakui mengikuti imam-imam tersebut, apakah
pengakuan mereka benar atau tidak ?
Pasal Menerangkan
Bahwa Semua Itu Tidak Terpuji.
Yang kami maksud
dengan ilmu-ilmu tidak terpuji ialah ilmu sihir, ilmu perdukunan, ilmu nujum,
ilmu falsafah, dan lain sebagainya. Ilmu sihir dan ilmu perdukunan dapat
mendatangkan berbagai macam mudharat. Adapun ilmu nujum itu dilarang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda
:”Jika disebut-sebut tentang perbintangan, maka diamlah.” [6]
Kita disuruh diam,
karena seseorang itu cenderung suka mengalihkan pada sebab-sebab, yakni
perantara-perantara yang bisa diindera maupun yang ada dalam khayalan. Boleh
jadi karena sebab itu ia lalu melaikan si pembuat sebab-sebab. Sementara
falsafah itu dapat membawa kepada hal-hal yang bertentangan dengan syari’at.
Harus diakui bahwa ilmu matematika itu tidak mungkin bisa ditentang dan
diingkari. Tetapi ia menjadi pengantar bagi hal-hal yang berada di belakangnya.
Jadi gunakan saja ilmu tersebut sekedar kebutuhan saja. Menuntut ilmu-ilmu alam
pun sekedar kebutuhan saja. Demikian menuntut ilmu astronomi juga sekedar untuk
mengetahui tempat-tempat tertentu dan petunjuk-petunjuk arah kiblat.
Pasal Tentang
Adab Guru Dan Murid.
Adab dan tugas
seoang murid itu cukup banyak. Tetapi kami bagi perinciannya menjadi tujuh
kelompok.
Tugas pertama :
Terlebih dahulu harus mmbersihkan jiwa dari akhlak-akhlak yang nista,
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wa Sallam :”Agama itu didirikan atas kebersihan.” Yang dimaksud ialah
bukan kebersihan pakaian, tetapi kebersihan hati. Hal itu berdasarkan petunjuk
firman Allah Ta’ala :“Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis.” (Surat At Taubah : 28) Dijelaskan
bahwa yang najis itu tidak hanya khusus melekat pada pakaian. Sepanjang batin
tidak bersih dari kotoran-kotoran, ia tidak bisa menerima ilmu yang bermanfa’at
dalam agama, dan ia tidak akan disinari oleh cahaya ilmu.
Ibnu Mas’ud
mengatakan :”Ilmu itu tidak diukur dengan banyaknya meriwayatkan. Tetapi
sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang terpasang di hati.”
Seorang muhaqiqin
mengatakan :”Kami pernah menuntut ilmu bukan karena Allah. Dan ilmu menolak,
kecuali karena Allah. Maksudnya, ilmu tidak mau dan menolak kami, sehingga kami
tidak bisa melihat hakekatnya. Yang kami dapatkan hanya sekedar cerita dan
lafazh-lafazhnya saja.”
Tugas kedua : Mengurangi ketergantungan-ketergantungan dan
menjauhi kampung halaman, supaya hatinya bisa terfokus pada ilmu. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi
seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Surat Al Ahzab : 4) Oleh karena
itu ada yang mengatakan :”Ilmu tidak akan memberimu sebagiannya saja, sampai
kamu memberikan dirimu seutuhnya kepadanya.”
Tugas ketiga : Jangan
sombong terhadap ilmu dan tidak membangkang pada guru. Sebaliknya kamu harus
menyerahkan kendali kebebasan kepadanya. Contohnya seperti orang sakit berat
yang mennyerahkan kendali kebebasan kepada dokter, tanpa harus menunut yang ini
dan yang itu. Sebaiknya dibiasakan untuk berkhidmat kepada guru. Diriwayatkan
bahwa Zaid bin Tasbit menyembahyangkan jenazah. Tiba-tiba seekor bighal
didekatkan kepada Zaid untuk dinaiki. Lalu muncul Ibnu Abbas yang segera
memegangi kendalinya. Zaid berkata :”Biarkan, wahai sepupu Rasulullah.” Ibnu
Abbas menjawab :”Demikianlah kami diperintah untuk menghormati para ulama dan
orang-orang besar.” Zaid segera mencium tangan Ibnu Abbas seeaya berkata
:”Beginilah kami diperintah untuk memperlakukan anggota keluarga nabi kami Shallallahu Alaihi Wa Sallam.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda
:”Bukan termasuk akhlak orang mukmin sikap terlalu hormat, kecuali dalam urusan
menuntut ilmu.”
Seorang penyair
mengatakan :
Ilmu itu memerangi seorang pemuda yang
sombong
Laksana banjir yang memerangi tempat yang tinggi.
Tugas keempat, Menghindari
dari mendengarkan perselisihan-perselisihan manusia, karena hal itu dapat
menimbulkan kegelisahan dan kebingungan. Mula-mula hatinya akan cenderung pada
semua yang masuk padanya, terlebih hal-hal yang dapat menimbulkan kemalasan dan
enak-enakan. Oleh karena itu bagi para penuntut ilmu yang masih pemula, tidak
boleh mengikuti perbuatan orang-orang yang malas. Sampai-sampai ada sebagian
mereka yang mengatakan :”Siapa yang mengunjungi kami pertama kali, ia adalah
teman. Dan siapa yang mengunjungi kami terakhir kali ia adalah zindiq.” Sebab
pada akhirnya anggota-anggota tubuh mereka menjadi malas bergerak, kecuali
hanya untuk melakukan hal-hal yang fardhu saja. Mereka mengganti amalan-amalan
sunnat hanya dengan gerakan-gerakan hati dan kesaksian yang terus menerus.
Orang yang lalai itu cenderung malas dan enak-enakan. “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,
padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (Surat An Naml : 88)
Tugas kelima : Setiap
disiplin ilmu yang terpuji harus terus ditekuni, sampai terlihat dengan jelas
tujuannya. Jika usia membantu, ia harus menyempurnakannya. Kalau tidak, ia
pilih saja yang paling penting. Menjatuhkan pilihan paling penting itu dilakukan setelah mengamati keseluruhan.
Tugas keenam :
Menfokuskan perhatian terhadap ilmu yang paling penting di antara ilmu-ilmu
yang ada, yakni ilmu akhirat. Yang kami maksudkan ialah bagian muamalah dan
mukasyafah. Mu’amalah itu akan menuju mukasyafah. Mukasyafah ialah mengenal
Allah Ta’ala, dan itu adalah cahaya
yang dipasang oleh Allah Ta’ala pada
hati yang bersih karena ibadah dan mujahadah. Dan hal itu akan berujung pada
tingkatan iman Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu
Anhu, seperti yang dinyatakan dalam sebuah riwayat :”Seandainya imam
penduduk bumi ditimbang dengan iman Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.” Hal itu
karena adanya sebuah rahasia yang bercokol dalam hatinya, bukan karena
pengajuan bukti-bukti dan argumen-argumen yang rapi.
Sangat mengherankan
sikap seseorang yang telah mendengar sabda-sabda dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia
meremehkan ucapan ala sufi yang didengarnya tersebut. Ia bahkan menganggap
bahwa hal itu adalah termasuk kebatilan-kebatilan sufi. Berhati-hatilah dalam
masalah ini, karena ia bisa menyia-nyiakan capital. Berusalah dengan penuh
semangat untuk mengetahui rahasia yang keluar dari ilmu para ulama ahli fiqih
dan para ulama ulama ahli tauhid. Jangan melakukannya, kecuali karena kamu
ingin mencarinya.
Ketahuilah,
sesungguhnya ilmu yang paling mulia dan yang paling puncak ialah mengenal Allah
Ta’ala. Inilah samudera yang dasarnya
tidak mungkin terjangkau. Derajat manusia yang terdalam di dalamnya ialah
tingkatan para nabi, para wali, dan seterusnya. Diceritakan bahwa dua orang
bijak yang sama-sama rajin beribadah, terlihat pada tangan salah seorang mereka
secarik kain bertuliskan :”Jika kamu berbuat baik dalam segala hal, jangan kamu
kira kamu telah berbuat baik terhadap segala sesuatu, sebelum kamu mengenal
Allah Ta’ala dan meyakini bahwa Dia
lah yang membuat sebab-sebab serta yang mewujudkan segala sesuatu.” Sedangkan
di tangan yang satunya terdapat tulisan :”Sebelum mengenal Allah aku biasa
minum dan haus lagi. Dan setelah mengenal Allah aku bisa merasa segar tanpa
harus minum.”
Tugas ketujuh :
Menuntut ilmu dengan tujuan untuk menghiasi batin dengan sifat-sifat yang dapat
mengantarkannya kepada Allah dan berada di sisi para malaikat yang selalu
berada di dekat-Nya. Jadi bukan untuk memperoleh kekuasaan, harta, dan
kedudukan.
Menerangkan Tentang Tugas-Tugas
Seorang Mursyid Yang Mengajar.
Perilaku terbaik
seorang pengajar ialah seperti yang dikatakan :”Siapa yang belajar,
mengamalkan, dan mengajarkan, itulah yang dipanggil si besar dalam kerajaan langit.”
Tidak sepatutnya ia
laksana sebatang jarum yang mengenakan pakaian pada benda lain, sementara ia
sendiri dalam keadaan telanjang. Atau laksana sumbu lampu yang menerangi benda
lain, sementara ia sendiri terbakar, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang
penyair :
Aku menjadi seolah-olah sumbu yang dipasang
ia menerangi manusia
sementara ia sendiri terbakar.
Siapa yang menekuni tugas
mengajar, berarti ia tengah menekuni suatu perkara yang sangat besar. Oleh
karena itu ia harus menjaga adab-adab dan tugas-tugasnya :
Tugas pertama :
Sayang kepada murid dan bahkan menganggapnya seperti anaknya sendiri,
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wa Sallam :”Sesungguhnya aku terhadap kalian itu seperti seorang
ayah terhadap anaknya.” Bahkan seorang guru adalah ayah sejati bagi murid. Jika
seorang ayah menjadi sebab pada kehidupan yang fana’, seorang guru justru
menjadi sebab pada kehidupan yang kekal. Logis kalau seseorang harus lebih
mendahulukan hak gurunya daripada hak kedua orang tuanya.
Belajar dengan
tujuan untuk mencari kesenangan duniawi adalah kebinasaan segala kebinasaan.
Kalau demikian para murid yang satu guru harus saling mencintai. Sebab, pada
hakekatnya ulama dan putra-putra akhirat itu adalah para musafir yang sedang
bepergian menuju Allah Ta’ala. Mereka
semua tengah menempuh jalan-Nya. Dunia berikut tahun-tahun dan bulan-bulan yang
meliputinya adalah tempat-tempat persinggahan di tengah jalan. Di antara para
musafir yang sedang mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain saja harus
saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai. Apalagi dalam perjalanan yang
menuju Allah Ta’ala dan syurga
firdaus yang amat luas. Seharusnya dihindari saling bersaing dan berebut,
berdasarkan firman Allah Ta’ala :”Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (Surat Al Hujurat : 10)
Tugas kedua : Menteladani
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Ia
tidak boleh menuntut upah dari mengajar. Allah Ta’ala berfirman :“Kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Surat
Al Insan : 9) Kendatipun ia berjasa atas mereka, mereka pun jasa atas dirinya,
karena mereka lah yang menjadi sebab ia bisa dekat dengan Allah dengan cara
menanamkan ilmu serta keimanan di dalam hati mereka.
Tugas ketiga : Memberikan
nasehat apa pun untuk kepentingan masa depan murid-murid. Contohnya seperti
melarang mereka mencari kedudukan sebelum mereka layak mendapatkannya, dan juga
melarang mereka menekuni ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan ilmu yang
nyata.
Tugas keempat : Memberi
nasehat murid-murid dengan tulus, dan melarang mereka dari akhlak-akhlak yang
tercela. Tetapi bukan dengan cara yang kasar, melainkan dengan cara sindiran.
Sebab, cara yang kasar justru dapat merusak kewibawaan. Idealnya ia harus
berlaku lurus, baru kemudian ia menuntun mereka juga berlaku lurus. Kalau ini
dilanggar, nasehat tidak ada gunanya. Sebab, memberikan keteladanan dengan
bahasa sikap itu lebih efektif daripada memberikan keteledanan dengan bahasa
kata-kata.
Pasal Tentang Penyakit-Penyakit Ilmu
Dan Penjelasan Tentang
Tanda-Tanda Ulama Akhirat Dan Ulama Jahat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda
:”Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat kelak ialah seorang yang
berilmu tetapi Allah tidak memberikan kemanfa’atan pada ilmunya.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga
bersabda :”Siapa yang ilmunya bertambah namun petunjuknya tidak bertambah,
niscaya ia hanya semakin menambah jauh dari Allah.”
Ketahuilah, dengan
menekuni suatu ilmu seorang alim
menghadapi dua kemungkinan; ia bisa celaka dan juga bisa mengalami
kebinasaan yang abadi. [7] Al Khalil bin Ahmad mengatakan :”Manusia itu
ada empat. Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Dia itulah orang
yang alim, maka ikutilah ia. Kedua, orang yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia
tahu. Dia itu orang yang tidur, maka bangunkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak
tahu dan ia tahu bahwa ia memang tidak tahu. Itulah orang yang sedang
membutuhkan petunjuk, maka ajarilah ia. Dan keempat, orang yang tidak tahu dan
tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Itulah orang bodoh, maka waspadalah
terhadapnya.”
Sufyan mengatakan
:”Ilmu itu memanggil amal. Jika dijawab, ilmu itu bermanfa’at. Dan jika tidak,
ilmu akan pergi.” Allah Ta’ala berfirman
:“Dan bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi
Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu.” (Surat Al
A’raf : 175)
Ulama akhirat ialah
mereka yang tidak makan dunia dengan mengorbankan akhirat, dan tidak mau
menjual akhirat dengan deunia. Soalnya mereka tahu bahwa akhirat itu mulia dan
dunia itu hina. Siapa yang sampai tidak mengetahui pertentangan dunia berikut
mudharat-mudharatnya dengan akhirat, ia bukan termasuk ulama. Dan siapa
mengingkari hal itu, berarti ia mengingkari petunjuk Al Qur’an, sejarah-sejarah,
semua kitab yang diturunkan, dan ucapan para nabi. Dan siapa mengetahui hal itu
namun tidak mengamalkannya, berarti ia adalah tawanan syetan. Ia telah
dibinasakan oleh kesenangan nafsunya sendiri dan ia pasti akan celaka. Siapa
yang mengikuti orang seperti ini ia pun akan celaka. Dan orang yang berada
dalam tingkatan seperti ini bagaimana mungkin bisa dianggap termasuk golongan
ulama ?
Saat berdialog
dengan Daud, Allah Ta’ala berfirman
:”Tahukah kamu, apa yang akan Aku lakukan terhadap orang alim yang lebih
mementingkan kesenangan nafsunya daripada mencintai-Ku ? Aku haramkan ia bisa
menikmati bermunajat dengan-Ku. Wahai Daud, jangan Tanya kepada-Ku tentang
seorang alim yang sudah dibikin mabuk oleh dunia, karena ia akan menghalangimu
dari jalan cinta-Ku. Mereka itu adalah gerombolan penyamun jalanan terhadap
hamba-hamba-Ku. Wahai Daud, jika kamu melihat seorang penuntut ilmu, jadilah
kamu sebagai pelayannya. Wahai Daud, siapa yang mengembalikan kepada-Ku orang
yang lari, Aku mencatatnya sebagai orang yang gugur secara syahid. Dan siapa
yang Aku catat sebagai orang yang gugur secara syahid, selamanya Aku tidak akan
menyiksanya dengan api neraka.”
Demikian pula yang
dikatakan oleh Al Hasan :”Hukuman terhadap ulama ialah kematian hati, dan
kematian hati ialah mencari kesenangan dunia dengan amal akhirat.”
Umar bin Al Khattab
Radhiyallahu Anhu mengatakan :”Jika
kamu melihat seorang ulama mencintai dunia, curigailah ia akan merusak agamamu.
Sebab, setiap orang yang mencintai itu pasti akan tenggelam dalam apa yang
dicintainya.”
Yahya bin Mu’adz Ar
Razi mengatakan kepada ulama-ulama dunia :”Wahai para pemilik ilmu, istana
kalian adalah seperti istana-istana kaisar, rumah-rumah kalian adalah seperti
rumah kisra, pintu-pintu kalian adalah seperti pintu-pintu kaum zhahiriyah,
sepatu-sepatu kalian adalah seperti sepatu-sepatu Jalut, kendaraan-kendaraan
kalian adalah seperti kendaraan-kendaraan Qarun, bejana-bejana kalian adalah
seperti bejana-bejana Fir’aun, upacara-upacara kalian adalah seperti ucapara-upacara
kaum jahiliyah, dan madzhab-madzhab kalian adalah seperti madzhab-madzhab
syetan. Lalu di mana syari’at Muhammad ?.”
Ia lalu melantunkan
sya’ir :
Penggembala domba melindungi dari serangan
srigala
bagaimana jika si penggembala itu sendiri adalah srigalanya
?
Seorang penyair mengatakan :
Wahai para pembaca Al Qur’an
wahai garam negeri
apa baiknya garam yang sudah rusak.
Ketahuilah, sesungguhnya yang
patut bagi seorang alim dan ta’at bergama ialah bahwa makanan, pakaian, tempat
tinggal, dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya di dunia harus
tengah-tengah. Artinya, tidak condong kepada kemewahan atau bergelimang nikmat,
dan tidak berlebihan dalam kemewahan ini jika ia tidak bisa mencapai sifat
zuhud. Sedapat-dapatnya jangan sampai ia menemui para penguasa dan para
pendamba dunia, karena dikhawatirkan hal itu bisa menimbulkan fitnah.
Pasal Tentang Akal Dan Kemuliaannya.
Akal adalah sumber
ilmu. Tentang kemuliaan akal ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :”Pertama
yang diciptakan oleh Allah adalah akal. Allah berfirman kepadanya :”Majulah.”
Setelah akal menghadap, Allah berfirman kepadanya :”Mundurlah.” Dan akal pun
mundur. Allah lalu berfirman :”Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak
menciptakan makhluk yang lebih mulia daripadamu. Karenamu Aku mengambil,
karenamu Aku memberi, karenamu Aku memberi balasan pahala, dan juga karenamu
Aku menyiksa.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda
:”Aku bertanya kepada Jibril :”Apa itu as
su’dad.” Jibril menjawab :”Akal.”
Hakekat akal ialah
naluri yang digunakan untuk memahami pengetahuan-pengetahuan yang bersifat
teoritis. Akal seolah-olah adalah cahaya yang dimasukkan di dalam hati. Dengan
akal manusia siap untuk memahami segala sesuatu. Dan akal berbeda-beda sesuai
dengan perbedaan naluri. Wallahu a’lam.
ooo0ooo
[1] Kitab pertama, bagian dari seperempat yang membasah tentang msalah
ibadah dalam kitab Ihya’ Ulum Al Din
[2] Demikian bunyi naskah yang dicetak. Di dalam kitab Ihya’ Ulum Al Din disebutkan, orang-orang
di sekitarnya sama menjawab :”Benar.” Disebutkan dalam Mughni Al Labib oleh Ibnu Hisyam Al Anshari, kalimat Bala itu kalimat jawaban yang memiliki
arti khusus menafikan atau berarti membatalkan atau menyangkal pertanyaan.
Contohnya seperti firman Allah surat Al A’raf ayat 172 “Tidakkah Aku ini Tuhanmu ?.” Menurut Ibnu Abbas, kalau pertanyaan
Allah tersebut dijawab :”Ya”, maka bisa menyebabkan kafir. Jadi jawaban “Ya”
tersebut harus diartikan membenarkan si penanya.
[3] Ini kalimat yang terdapat dalam Ihya’
Ulum Al Din. Tetapi kalimat dalam naskah yang dicetak berbunyi :” Sesungguhnya
mempelajari ilmu karena Allah adalah
suatu kebajikan.” Jadi ada salah penulisan.
[4] Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu syari’at ialah ilmu yang diambil
dari para nabi. Akal tidak bisa menunjukkanya seperti ilmu berhitung, tidak
bisa dilakukan eksperimen seperti ilmu kedokteran, dan tidak bisa didengar
seperti ilmu bahasa.
[5] Demikian kalimat yang terdapat dalam Al Ihya’. Dalam Ithaf Al
Saddat Al Muttaqin Bi Syarhi Ihya’ Ulum Al Din oleh Sayid Muhammad bin
Muhammad Al Husaini Az Zabidi atau yang lebih dikenal dengan nama Al Murtadha
disebutkan, yang dimaksud ialah mengerahkan segenap kemampuan untuk menyiarkan
ilmu fiqih dan berbagai jenisnya.
[6] Isi hadis selengkapnya ialah :”Jika disebut-sebut tentang takdir,
maka diamlah. Jika disebut-sebut tentang perbintangan, maka diamlah. Dan jika
disebut-sebut tentang sahabat-sahabatku, maka diamlah.” Diriwayatkan oleh Ath
Thabarani dengan isnad yang sangat bagus.
[7] Demikian kalimat yang terdapat dalam naskah yang dicetak. Sedangkan
di dalam Al Ihya disebutkan,
seseorang seorang ulama itu bisa terjerumus kepada kehancuran yang abadi atau
memperoleh kebahagiaan yang kekal. Dengan menekuni suatu ilmu ia bisa tidak
selamat kalau ia tidak sampai mendapati kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar